Story cover for J E D A by kokaishitemou
J E D A
  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Feb 17, 2021
Pada tiap janji yang pada akhirnya teringkari
Pada tiap temu yang pada akhirnya batal
Pada tiap harap yang terpaksa hilang.


Aku sudah biasa dengan kepalsuan, aku sudah biasa dengan pengingkaran. Ayah yang katanya pergi bekerja dan tak kunjung kembali selama 4 tahun, malah ku temui tengah bahagia bersama keluarga barunya.

Keadaan terus menekanku, seperti yang ku tahu setelah banyak luka yang dirasa, obat terbaik untuk melukai luka hati adalah hati baru. Meski begitu, keadaan berkata lain. Ibu yang amat terluka dengan pengkhianatan ayah, tak kunjung mendapatkan obat nya. Bagai mengumpulkan aib di tengah neraka, ia tak kunjung mendapatkan suami yang tepat. pada akhirnya selalu berakhir dengan perceraian. Ditegur pun tak bisa, katanya aku terlalu kecil untuk mengurusi masalah orang tua.

Beranjak dewasa keadaan semakin senang mempermainkan hidupku rupanya. Tameng yang ku bangun dari tiap luka, dan pedih selama ini. Yang membuatku tak membuka diri pada dunia luar. Seakan dibuat tak berdaya, kehadiran mu saat itu. Yang tak terencana, entah mungkin aku yang tak menduga, begitu dalam mencampuri hidupku.

kamu...
kamu...
Wija.

Nama yang unik untuk pertama kali mendengarnya, Seunik orangnya, nama panjangmu yang diambil dari nama sebuah bunga pun membuat sosokmu selaras dengan sikapmu yang penuh ketidak dugaan. contohnya, seperti saat ketika kamu yang berhasil membuatku begitu lumpuh dengan perhatianmu, dan selalu bergantung padamu. Tak kuduga malah berakhir dengan ditelantarkan kembali.

Terimakasih Wija, kamu sudah mengkonfirmasi. Bahwa aku memang tidak layak bahagia, bahwa aku memang tak layak untuk dicintai.

Terimakasih Wija, karena kamu telah menunjukkan masih ada lelaki brengsek lainnya di dunia ini.
All Rights Reserved
Sign up to add J E D A to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Truth After Love (Tamat, segera terbit) by tiaxyl
36 parts Complete
perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.
Mahligai Sunyi by AetherSerl
28 parts Complete Mature
Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.
You may also like
Slide 1 of 8
Truth After Love (Tamat, segera terbit) cover
IF YOU cover
SELEPAS KAU PERGI (END) cover
Remember Me As A Time of Day✅ cover
Mahligai Sunyi cover
Sekali Lagi (End)  cover
Love In Paris (COMPLETED) cover
Full Of Scratches cover

Truth After Love (Tamat, segera terbit)

36 parts Complete

perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.