32 bab Lengkap "Lu nggak lebih dari sekadar pecundang," suara Rain menggelegar, menusuk lebih tajam dari pisau.
"Peduli? Gue? Lucu sekali. Gue sudah berhenti peduli sejak lama," ucapnya dengan tatapan dingin.
" Oke fine, semoga lu nggak nyesal." Setelah berucap, Rain melangkah pergi, meninggalkan Niel dengan ribuan pertanyaan yang tak akan pernah terjawab.
Sakit? Tentu saja. Tapi bukan itu yang paling menyiksa Rain saat ini. Yang lebih menyakitkan adalah kecewanya pada dirinya sendiri-karena pernah menaruh harapan pada Niel, seseorang yang tak lebih dari sekadar pecundang.
Salahkah jika Rain mengharap Niel, menarik ucapannya?
Bagaimana kisah Rain setelah dihantam kenyataan pahit? Mungkin ia akan tenggelam dalam luka, atau justru bangkit dari reruntuhan harapannya. Yang pasti, hatinya tak lagi sama dan realita telah mengubahnya selamanya.