Ruang BK

Ruang BK

  • WpView
    Reads 57
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 17, 2021
Seorang gadis kelas 12 SMA yg Manja, Jelek, Bodoh dan pendiam, Ia Yura Terduduk di kursi panjang ruang konseling, hanya ada ia dan 1 guru laki laki di hadapannya menatap garang. "Ya kamu masalah nya apa sampe bisa saya panggil kesini?" kak nero. "Daftar kip tapi gmail nya salah terus gak bisa log in gituuuu" ucap ku menatapnya tersenyum canggung. "mana sini hp nya" titah Nya. "Hah? Hp? Buat apa?" "Buat saya jual ke pasar ya buat saya cek lah gimana sih" "Hehe ya maap kak lemot" "Siapa lemot? saya?!" ucap kak nero agak ngegas. "E-eh bu-bukan maksud yura itu Yura yg lemot gitu" ucap ku. "Emang kamu lemot gak usah dipamerin makanya apalagi dipelihara" ucap kak nero sambil mengambil hp ditangan kiri ku. 'Astagfirullah' batin yura mengadu. Ini bukan fiktif belaka, jika latar alur, tempat dan kejadian sama itu bukan suatu kebetulan tapi kenyataan. Kisah ini diambil dari kisah seseorang yang patah hati akan takdir nya.
All Rights Reserved
#8
sickgirl
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Because ILY [Completed]
  • My Destiny (Complete)
  • "DOMINO II" [ COMPLETED ]
  • Entahlah Aku Lelah (gxg)
  • ASKARA (END) TERBIT✔️
  • ARTAN
  • ADYRA
  • Kakak Tingkat ✔ [COMPLETED]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines