Di pelataran rumah tua yang menghadap sawah, Lira menunggu seseorang yang tak kunjung pulang. Setiap senja, ia duduk di bangku kayu itu, membawa serta harapannya yang perlahan berubah menjadi kebiasaan sunyi. Cerpen ini menggambarkan bagaimana kehilangan tak selalu tentang air mata, tapi juga tentang cara bertahan tanpa suara. Puisi yang tak pernah ditulis, rindu yang tak pernah sampai.
Więcej szczegółów