Maryam Karimova

Maryam Karimova

  • WpView
    Reads 267
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 11, 2021
Rasanya engkau pernah menaruh asa. Rasanya pula engkau pernah menaruh rasa. Rasa cinta, sayang, dan apalah. Intinya sama, engkau ada rasa. Ada kalanya rasa seiring asa. Dan kala itu engkau bisa benar-benar bahagia, rasa dan asa melangkah seiring kata. Lalu, bagaimana bila sebaliknya? Rasa dan asa seolah bertolak belakang, laksana kutub selatan dan utara. Laksana timur dan barat. Teramat jauh jaraknya. Sekian waktu habis demi menempuhnya. Sekian angka biaya terkikis demi menggapainya. Dan belum tentu bersua juga. Namun, laksana kalimat "berpaling bukan berarti membenci". Terukir asa, kian bersua Arktik dan Antartika walau entah kapan adanya. Bila perlu juga yang lainnya. Berpadu dalam satu ikatan laksana Mahabenua Pangaea yang katanya hadir di zaman dahulu kala. Biarlah saat ini terbentang jarak sekian angka, asalkan di kemudian hari bersua. Lalu, terikat erat dan tak terpisah lagi. Begitulah kira-kira. Maksim. Telah sekian jarak ia meninggalkan negerinya. Menyatakan selamat tinggal pada pulau seberang Negeri Matahari Terbit. Melalang jauh ke negeri paling selatan benua. Menyemai asa, semoga selamat diri dan keluarga dari marabahaya. Tidak mengapa berteman nestapa, asal ia juga segenap keluarga Lee lainnya tak berteman ancaman bahaya. Di negeri baru, perihal tak lantas berlalu. Perihal juga tak hadir atas serangan musuh. Rekan semarkas pun bisa turut menghadirkan perihal. Apalagi bila perihal itu menyangkut agama. Keluarga Lee mengangkat kaki lebar-lebar bukan semata menyelamatkan diri. Mereka berpaling demi menjaga agama yang diukir indah dalam hati. Dan di negeri barunya, di negeri mayoritas agama Islam yang dianutnya, justru perihal baru tiba bersemi. Maryam Karimova, nama yang turut dalam perihal. Tak terbersit namun terutarakan. Ia tak sekadar perihal rasa, namun juga asa yang hadir tiba-tiba. Ia menantang hasrat diri, seberapa kuat mengorbankan rasa. Lalu, bagaimana bila rasa itu telah hadir di keduanya?
All Rights Reserved
#41
maryam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • Prema Sutram [Completed✔️]
  • BUN𝖦A PRIBUΜI |ᴅɪғғᴇʀᴇɴᴛ ʙʟᴏᴏᴅ| [END]
  • My Duchess / End
  • Hoping For More Good Days
  • ANDROMEDA (END)
  • Tak Sejalan
  • Elementum
  • RESURGERE: The Andalas Of Nusan [CH]
  • KOMAR.

(SELESAI REVISI, SEDIKIT BERUBAH CERITA ALURNYA. CERITA SUDAH SELESAI DAN LENGKAP. HANYA DI POST DI WATTPAD) ❗❗❗ Cerita ini membuat diabetes. Dan ini cerita ringan. Author membuatnya karena ingin cerita yang manis ❗❗❗ --- "Kalau begitu, Anda bisa bantu saya," kata Arjuna, suaranya tenang namun penuh tekanan. "Apa?" tanya Yena pelan. "Anda... jadi istri saya." "Hah?" Yena nyaris berbisik. Jantungnya berdetak cepat, kepalanya terasa pening. Apa dia tidak salah dengar? Seorang Arjuna, duda beranak satu, adik angkat dari sahabat ayahnya-Reyvan dan Rezka-serta om angkat dari pacarnya sendiri, Alvano, meminta dirinya menikah? Gila. Pria ini sudah gila. Yena ingin tertawa, tapi tenggorokannya kering. Anak Arjuna bahkan hampir sebaya dengannya. Dan yang lebih parah, dia sudah punya pacar-Alvano. Dia mengumpat dalam hati. Seandainya saja hari itu dia tidak membuka pintu ruang dosen secara sembrono dan melihat dosennya itu dalam kondisi-sial-telanjang bulat, mungkin dia tidak akan berada dalam situasi ini. Terjebak. Arjuna semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Bagaimana, Bu Yena?" suara Arjuna terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang mengintimidasi di baliknya. "Apakah Anda bersedia membantu saya? Atau..." Dia menggantungkan kalimatnya, matanya menatap tajam. "Saya tidak akan membiarkan Anda keluar." Yena menggigit bibir. "Itu kan salah Anda sendiri," ucapnya, suaranya sedikit parau. "Anda yang tidak mengunci pintu kalau Anda mau... seperti itu." Wajah Arjuna tetap datar, tapi ada sesuatu di dalam matanya yang sulit Yena pahami. Pria itu semakin mendekat. Jarak mereka nyaris tidak ada. Tangan Arjuna terangkat, jari-jarinya yang besar meraih dagu Yena dengan lembut namun kuat, memaksanya menatap pria itu. "Kalau Anda tidak mau," bisik Arjuna, "mulai saat ini hidup Anda akan berbeda, Bu Yena." Yena menelan ludah. "Apa maksud Pak Juna?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Arjuna tersenyum. Senyum yang membuat Yena... menahan napa

More details
WpActionLinkContent Guidelines