BIRU NADA.

BIRU NADA.

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 3, 2021
Omong kosong itu sifat asli manusia Kekosongan, ilusi imajiner, bukan manusia, malah terlihat seperti monster. Berharap akan kehidupan yang tidak setara. Mahakarya tanpa bakat bukankah itu seperti sesuatu yang luar biasa?. Kurangnya kepribadian pada sesuatu yang setara. Hanya mengikuti ingatan karena aku tidak memiliki tempat untuk tinggal. ~~~~~~~~~ Aku membenci sesuatu yang menyenangkan. Aku membenci orang yang membentuk kelompok teman. Karena aku merasa diasingkan. Aku juga benci waktu istirahat. Karena itu memperjelas fakta, Bahwa aku sedang dijauhi oleh semua orang. Aku juga membenci guru, Karena mereka selalu mementingkan kerja kelompok. Dan karena kita selalu diasingkan, Kita sangat membenci acara sekolah. Kalau di pikir-pikir kembali, Tak ada hal yang kita suka. Aku, tak dibutuhkan siapapun kan?. Apa aku boleh mati?. ~~~~~~~ P.S : Ini adalah cerita murni dari imajinasi sang penulis. Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Diharapkan yang membaca jangan meng-copy paste.
All Rights Reserved
#22
penyendiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  •  Empathy (On-Going)
  • No Longer Mate
  • kiara's dream
  • My Friend and My Bestfriend
  • DEVIAN [END]
  • VIVIAN'S STORY (COMPLETE)✓✓
  • Jejak Waktu [Complete]
  • LIKE A FOOL
  • Senja

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines