Imagine If

Imagine If

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 29, 2024
Jia yang benci dengan lelaki tapi malah punya sahabat lelaki yang super protektif dengannya. Ines yang merasa hidup dalam sebuah cerita sebagai pemeran figuran. Dan Chika yang tiba-tiba dihadapi dengan lelaki asing di dalam apartemennya sendiri. Jangan lupakan Lana, si Mahasiswi baru yang masih belum tahu apa yang akan terjadi di tempat tinggal barunya. Lalu, masih banyak lagi. ^=+=^ Serangkaian short story yang saya tulis karena ide mendadak yang sering kali muncul di kepala. Setiap cerita mungkin akan berakhir dengan dua atau satu part saja. Saya memutuskan untuk membuat cerita ini, agar saya tidak membuat cerita baru lagi yang nantinya akan menghambat cerita saya yang lain. Jadi, bayangkan saja, jika 'MC' nya adalah dirimu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Come Back to Me (Completed)
  • Oneshoot
  • My Story With Them (OS)
  • Pilihan Hati ✔
  • Belajar Hal Baru
  • Kumpulan Cerpen
  • Oneshot JJUS

Siang itu cerah. Tak ada setitik awanpun disana. Pandangannya teralih, dan jatuh pada seorang pria yang baru datang dari parkiran. Tinggi, dan putih. Tipe idealnya. Tak lama, wajah kaku itu berhias senyum sinis. Matanya mengikuti kemanapun pria itu pergi. Sudah lama Zania memperhatikan pria di bawah sana. Namanya Vian mahasiswa jurusan musik. Awalnya dia pikir pria itu masuk dalam tipe idealnya. Tapi tidak! Pria itu tengil, menyebalkan dan sering menggunakan bahasa antah berantah yang Zania sendiri tak tau apa maksudnya. Satu lagi, pria itu tak punya otak. Kelakuannya yang sembrono dan tak pernah serius benar-benar membuat gadis itu ilfell. "Woy! Disini lagi? Jangan-jangan lo cucunya setan penunggu jembatan ini!" Suara seorang pria mengusik telinganya. Membuat gadis itu mau tak mau harus menengok. Vian. Seperti tebakannya. Tak ada orang lain yang lebih nggak jelas dari pria di hadapannya sekarang. Bukan spacenya untuk meladeni pria macam ini. Gadis itu berbalik, lalu beranjak pergi. "Woy! Gue ngomong sama lo kali! Bukan sama balkon" teriak pria itu menghentikan langkah Zania "Mending lo ngomong sama balkon aja. Mungkin dia lebih paham bahasa planet lo" ucap gadis itu tanpa menoleh. Hanya sebentar, lalu segera kembali berjalan. Vian hanya tersenyum masam. Terus memperhatikan punggung gadis itu yang mulai menghilang. * * * Tanpa di duga, sebuah hari tiba. Memutar balikkan persepsi gadis itu tentang seorang Vian. Gadis itu jatuh cinta terlalu dalam. Sampai saat masa lalunya kembali datang. Mengacaukan kisah cintanya yang sekarang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines