"Kamu percaya takdir?"
"Percaya."
"Kamu percaya kalau ajal bisa datang tanpa mandang umur?"
"Percaya, setiap yang namanya hidup pasti akan merasakan kematian, Ve."
"Afsheena, kalau seandainya hari ini aku mati, kamu bagaimana?"
"Gimana, Na? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Ngapain sih nanya begitu? Kamu kan sekarang ada di sini,"
"Setiap orang pasti akan bertemu dengan kematian, Na. Dan aku pasti akan mati suatu hari nanti."
"Lebih baik kamu diam."
"Apa kamu akan nangis kalau aku mati nanti?"
"Kenapa nanya begitu terus? Aku nggak suka."
"Jawab, Sheena."
"Iya, aku bakal nangis! Nangis sekencang-kencangnya kalau kamu mati! Puas?!"
"Kalau begitu, jangan. Aku udah pernah bilang kalau jangan pernah menangisiku, karena aku membenci itu. Jadi kuharap, ketika aku mati nanti, jangan pernah menangis di pemakamanku."
"Kamu kenapa sih? Ngomongnya ngawur gitu. Kamu sakit?"
"Dan kalau saat itu sampai terjadi, aku cuma minta satu hal sama Tuhan. Aku cuma mau kamu bahagia walaupun itu tanpa aku di sisi mu, Na."
"Nggak butuh!"
➖➖➖➖➖➖⭐➖➖➖➖➖➖
Sedikit kuceritakan tentangnya, tentang dia yang kutemui tidak sengaja, tanpa aba-aba dan secara tiba-tiba aku menyukainya. Dia yang mengenalkanku akan banyak hal yang belum pernah kujumpai sebelumnya, dia yang mengajariku arti kehadiran dan keikhlasan, dia yang mengajariku tentang menghargai diri sendiri dan berhenti menyalahkan keadaan, dia yang menganggap dirinya tidak pantas padahal banyak orang yang menyukainya, dia yang selalu berusaha membahagiakan dan mencoba hal baru
demi orang disekitarnya, dia terkenal cuek dengan segala ketulusannya itu, dia yang selalu memikirkan perkataan orang lain dan berujung overtinking. Ini tentang lelaki yang memberiku sejuta rasa tanpa pernah kuduga. Lelaki yang selalu kusebut namanya namun tak berani memaksakan keadaan. Lelaki yang selalu kucintai tanpa tau kenyataannya. Lelaki yang dapat kudekap raganya tapi tak berlangsung lama. He is perfect to me but bukan aku
All Rights Reserved