Sorotan

Sorotan

  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jul 29, 2021
(Selesai) Satu pandangan ... dua ucapan ... tiga manusia.... Segala sesuatu yang berarti banyak juga sesaat, muncul mengganggu kehidupan damai yang semestinya. Di balik senja dan bias air di dermaga, kengerian muncul membawa serta teror. Mulai hari itu ... harapan dan keinginan yang tidak jelas, harus kembali atau ... Eka, Dwi, dan Tris bukan termasuk anak-anak yang memiliki kemampuan melihat dunia lain. Namun suatu kejadian membuat hal yang tidak seharusnya bersinggungan, menjadi satu kesatuan dalam kebingungan. Emosi tidak akan menjelaskan. Derita tidak akan dikatakan. Tanpa seseorang untuk menolong, akankah mereka terjerat dalam ketidak-pastian seumur hidup? Kisah ini, dituliskan berdasarkan imajinasi, mimpi, dan sedikit kenyataan yang tidak dapat diterima nalar. Semoga kamu terkesan untuk membaca kelanjutan kisah mereka. Terima kasih telah membaca.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Antara Dua Alam (TAMAT)
  • SEMALAM DI LAWANG KRAJAN [complete]
  • Bond Of Revenge
  • Keluarga di Ujung Senja
  • Gupta
  • KUTUKAN KEDOK PANJI [Complete]
  • WARISAN
  • SAMAR 2 (CLBK) {COMPLETED}
  • Hutan Terlarang [END]

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines