
Aku terlalu memikirkan orang lain sehingga lupa caranya menghargai diriku sendiri, merasa orang lain lebih bersinar dengan kemampuan yang mereka miliki, sedangkan aku? Hanya sebuah pemeran tambahan dalam cerita hidup orang lain. "Yah, orang lain lagi! Kapan dirimu mau bangkit? Tidakkah kau ingin seperti mereka itu? Jangan katakan iya, jika dirimu tidak mau berjuang. Allah sangat membenci orang yang putus asa, ingat itu!" Ungkapnya sarkas sehingga aku terdiam menatap matanya yang teduh. Aku menyayanginya, sungguh tiada yang mampu membuat hati ini patah kecuali jika dia bersama yang lain. Seketika aku tertampar dengan kata-kata nya. Memang benar, aku selalu melihat orang lain tanpa mau merubah diri. Tidak terasa, bayangan orang-orang yang aku sayangi hinggap di pikiran ku. Ya, aku harus berubah tapi mulai dari mana?Alle Rechte vorbehalten
1 Kapitel