I'll Be Better Tomorrow

I'll Be Better Tomorrow

  • WpView
    Reads 203
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 27, 2022
Cerita ini mengisahkan kehidupan anak perempuan yang lahir di Jerman tepatnya di Kota Berlin yang harus hidup sendirian, jauh dari keluarga, kerabat, dan hangatnya kasih sayang, Berliana Deolinda Zaquella Litoria yang biasa disebut Ella itu adalah nama anak dari pasangan Lito Jauzan beliau adalah ayah yang bekerja sebagai jaksa dan Mariya Lizulfizula yang merupakan bunda dari Ella yang berprofesi sebagai dokter. Kepergian orangtuanya di waktu yang bersamaan pada saat dia berusia 8 tahun membuat hidup dia dan kakaknya yang terpaut usia 10 tahun lebih tua yang bernama Nerissa Deon Witoria menjadi terpuruk. Di usia kakaknya yang menginjak 27 tahun pernikahan mewah terselenggara, disaat usia Ella menginjak 17 tahun ia terpaksa untuk ikut tinggal bersama dengan kakak dan kakak iparnya di rumah yang mewah. Namun, dugaan Ella tentang kakak iparnya bahwa ia mempunyai hati baik bak malaikat ternyata salah. Pada kenyataannya kakak iparnya hidup di toxic zone, yang mana dia selalu bertindak kasar kepada istrinya yang pada akhirnya menyebabkan kakak satu-satunya yang dimiliki Ella harus meninggal dunia karena keguguran. Ini adalah kisah dari Berliana Deolinda Zaquella Litoria yang berjuang hidup sendirian di dunia yang penuh dengan asam garam kehidupan.
All Rights Reserved
#406
pertemanan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Cemara tapi di dalam nya berantakan"
  • A Life That Turns
  • Kesedihan [SELESAI]
  • Hope Was My Mistake
  • Goodbye Angelo ✔️ (Tamat)
  • The End of Keyra's Revenge
  • INTELIJEN SERAPHINE

Citra selalu percaya bahwa keluarga adalah tempat ternyaman untuk pulang. Namun, bagi dirinya, rumah justru menjadi tempat yang paling menyesakkan. Di depan orang lain, Ayahnya tampak seperti sosok yang penyayang dan bertanggung jawab. Tapi di balik pintu rumah, hanya kemarahan dan tuntutan yang ia terima. Setiap kata yang keluar dari mulut Ayah lebih sering berupa bentakan daripada nasihat. Setiap harinya, ia harus belajar menahan air mata, berharap suatu hari Ayah akan melihatnya sebagai seorang anak, bukan sekadar seseorang yang harus selalu ia kontrol. Namun, harapan itu perlahan pudar. Saat semua luka semakin dalam dan kata-kata tak lagi didengar, Citra menyadari satu hal: ia telah kehilangan sosok Ayah, bahkan sebelum ia bisa benar-benar mengenalnya. Kisah ini adalah tentang perjalanan seorang anak perempuan yang berusaha bangkit dari bayangan masa lalu. Tentang keberanian untuk melepaskan, meski yang dilepaskan adalah seseorang yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya. Bisakah seseorang tetap bertahan, meski tanpa sosok ayah disini

More details
WpActionLinkContent Guidelines