Love Is True

Love Is True

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 16, 2021
Kisah ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis cantik yang selalu merasa hidup nya terpenuhi. Ketika semua permintaan nya terkabul kan oleh orang-orang di sekitar nya, bagaimana jika ada permintaan yang tak terpenuhi? Awal mula bagaimana kehidupan Queen Hancur oleh ambisi nya sendiri dan perlahan mulai kehilangan orang-orang di sekitar nya. Ketika semua orang menilai Queen adalah si 'ratu yang baik hati' bagaimana jika fakta nya terkuak bahwa dia adalah wanita jahat? Sangat di sayangkan namun itulah Queen. Iblis berwajah Malaikat dan jangan lupa, Kayla si gadis buruk rupa berhati malaikat.
All Rights Reserved
#25
nandra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Surat Untuk Reno
  • Geng Bratadikara (TERBIT) ✓
  • DEADLY DEMON WOMEN (ENDING)
  • Takdir Kita (END)
  • Menghitung Hujan (Markhyuck)
  • TRANSMIGRASI 3 SAHABAT (TAMAT)
  • GISTARA (TERBIT)
  • Perihal Sandwich(End)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines