Rekaman Suara

Rekaman Suara

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 19, 2023
WpInfo
Fiction
Science Fiction
Seorang mantan tentara, Horace Gidden, menemukan keranjang berisi bayi yang bernama Jourhan Altani disungai. Bukan hanya bayi, dia juga menemukan tombak misterius yang dapat mengeluarkan rekaman suara. Horace memutuskan untuk memberi bayi itu kepada temannya yang belum memiliki seorang anak. Setelah menjalani keseharian yang damai, tampaknya hari damai seperti ini akan menemui akhirnya. Bertemu dengan seorang bangsawan yang narsistik, hidup Horace dan lainnya tidak akan tenang begitu saja. Ini hanya permulaan. Sebuah permulaan untuk menyingkap kultus misteri di latar abad pertengahan dan sejarah dunia yang berubah menjadi neraka.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Susu untuk Bayi Gaib
  • Dfoll's [✓]
  • DOSA DIAM
  • Bayangan dari Neraka
  • STEEL DOMINION 🗡🛡🩸
  • Warisan Gandari

Sebuah kisah gelap tentang ambisi memiliki keturunan. Tini, ibu muda berusia 19 tahun, terpaksa menerima tawaran menjadi ibu susu di rumah Joglo mewah milik Nyonya Arini. Keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Di balik kemegahan ukiran kayu jati dan aroma melati yang memabukkan, tersimpan rahasia kelam tentang keluarga ningrat yang terobsesi memiliki keturunan. Saat Tini menyadari bahwa bayi yang harus disusuinya tak seperti bayi pada umumnya, ia sudah terlanjur terikat kontrak mistis yang tak bisa dibatalkan. Kisah horor Jawa ini akan membawa pembaca menyusuri lorong-lorong gelap rumah Joglo, menghadapi pertanyaan mengganggu tentang makna keibuan, dan harga yang harus dibayar untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan kehadiran seorang anak. --- "Setiap wanita memiliki lukanya sendiri. Jangan tambah dalam dengan pertanyaan yang tak perlu, kapan punya anak?" Sebuah pengingat bahwa di balik senyum sopan dan jawaban klise "belum rejeki" dari mereka yang belum dikaruniai anak, mungkin tersimpan kepedihan dan pergulatan batin yang tak pernah kita pahami. Novel ini mengajak kita merefleksikan kembali sensitivitas dalam berinteraksi dengan sesama, terutama terkait isu kesuburan dan keibuan yang begitu personal. Dilarang menjiplak, mengambil sebagian scene ataupun membuatnya dalam bentuk tulisan lain ataupun video tanpa izin penulis. Jika melihat novel ini diplagiat, tolong lapor ke Ig/fb: @hayisaaaroon. Terima kasih, selamat membaca, semoga menghibur dan bermanfaat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines