28 parts Ongoing Mature"Coba tebak," bisik Kael. Suaranya rendah, berdesis di dekat telinga Lily, tetapi setiap suku kata terasa seperti duri es yang ditusukkan ke sumsumnya. "Apa hal yang paling pantas diterima sama perempuan murahan dan monster seperti kamu?"
Bayangannya, besar dan dominan, menutupi cahaya lampu kamar. Kemudian, dengan berat dan kepastian yang keji, tubuhnya yang hanya berbalut handuk itu menindih Lily. Bobotnya yang solid, otot-ototnya yang keras, menekan gadis itu ke dalam kasur hingga ia nyaris tak bisa bernapas. Kehangatan tubuhnya yang basah terasa seperti sangkar besi.
Lily gemetar tak terkendali. Gemetar yang berasal dari dasar ketakutan purba, insting bertahan hidup yang berteriak bahwa ini salah, ini sangat berbahaya. Air mata mulai menggenang di matanya, mengaburkan pandangannya pada langit-langit kamar yang mewah.
"Jangan... pura-pura takut," desis Kael lagi, napasnya hangat dan menusuk di kulit leher Lily. "Perempuan murahan kayak kamu pasti udah biasa, kan? Tidur sama banyak pria demi uang mereka. Ini cuma satu lagi. Apa bedanya?"
"Lepas!" teriak Lily, suaranya parau dan penuh keputusasaan. Dia menggeliat, berusaha mendorong tubuh berat di atasnya, tetapi usahanya sia-sia. "Aku... aku bisa laporin kamu ke polisi! Aku punya bukti!"
Kael mendongak, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, dia benar-benar terkekeh. Suara tawanya pendek, kasar, dan penuh sikap merendahkan. "Polisi? You're joking, right?"
Sebelum Lily bisa memproses ancaman itu sepenuhnya, Kael bergerak.
Tanpa peringatan, tanpa sedikit pun kelembutan, kepalanya turun dan mulutnya menutupi bibir Lily dengan keras, kasar, dan penuh penghinaan. Lily membeku sejenak sebelum otaknya menyala dengan panik. Dia berusaha memalingkan wajahnya, menggigit, tetapi Kael terlalu kuat.
Tangan kanan Kael yang besar dan kuat meraih kedua pergelangan tangan Lily yang mungil dengan mudah, mencengkeramnya dalam satu genggaman besi.