Kecewa (Antologi Senandika)

Kecewa (Antologi Senandika)

  • WpView
    Reads 142
  • WpVote
    Votes 39
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 19, 2022
(BELUM TERBIT) [Sinopsis] Sejak dulu, cita-cita yang paling aku inginkan adalah menjadi penulis besar yang beriman dan yang dengan karyaku dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ada banyak rintangan yang tumbuh di depan jalan impian itu. Namun, aku teringat dengan perkataan UAS, "Orang yang tidak pernah bermimpi, dia tidak pernah membuat mimpi jadi kenyataan. Orang yang paling pengecut adalah orang yang tidak pernah punya cita-cita, tapi yang paling pengecut adalah mimpi bercita-cita pun dia tak pernah." Selama aku punya impian maka selama itu akan berjuang mengalahkan kemalasan dan rintangan lainnya untuk mencapai impian besar. Oleh karena itu, harapan terbesarku adalah memberikan inspirasi bagi orang banyak yang mempunyai sekelumit masalah dalam hidup ini, apa pun kekecewaannya. Sebab, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah ketika aku menanggapi kekecewaan dengan cara negatif kepada sesuatu yang belum diketahui dari sumber cerita orang. Tulisan pertama ditulis langsung dalam Wattpad di antara buku lainnya. Isi senandika belum lengkap, tetapi akan ada di buku versi lengkap. Kecewa © September 2022 Eneste
All Rights Reserved
#991
islam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Batas-Batas Eksistensialisme
  • ALTAR RASA | END ✓ |
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • DREAM HIGH (UPDATE)
  • Istri Sah Ikky [B×B]
  • AMOUR (Mr. Pradipta)
  • My Sweet Polar Husband [End]
  • Ruang Kosong di Antara Jingga
  • Silent, Please! (Re-up)

Zona tak terbatas seolah memberi ruang untuk kebebasan mengkritisi segala hal, namun sebagian besar dari pikiran itu tidak layak berkeliaran di kepala. Dalam esai ini, saya menghadirkan potret kehidupan di sebuah kota industri yang terpukul hebat oleh pandemi. Cerita dengan momen yang mulai mengalir sejak pertengahan tahun 2020, setiap sudut kota tidak lagi sama, terkekang oleh kebijakan pembatasan yang menjadikan kita asing satu sama lain, kehilangan arah, dan beradaptasi dengan rutinitas yang semakin menyesakkan. Melalui perspektif pribadi, saya mengeksplorasi eksistensi kehidupan yang diwarnai oleh pertemuan singkat dengan orang-orang baru, dialog spontan yang memecah keheningan hiruk pikuk kota, serta momen-momen yang mengungkapkan keunikan setiap individu di antara deru aktivitas tak pernah terduga. Saya menggambarkan suasana kota yang memancarkan kehidupan, menceritakan keberagaman emosi, keinginan, dan impian yang mengalir di tengah kebosanan. Alam selalu punya cara untuk menghapus seluruh keluh kesah. Pantai-pantai dan tempat indah lainnya biasanya bersembunyi di sudut-sudut paling tepi dari kota, atau kadang-kadang mereka hadir di tengah hiruk-pikuk kota yang tidak pernah tidur. Kita hanya perlu kedamaian untuk meredam kebencian yang ada dalam diri. Makna yang mungkin sudah lama terkubur dalam nurani, namun tertutup oleh kekecewaan dan kesedihan yang tak kunjung usai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines