Our Memories

Our Memories

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 20, 2021
Disebuah kamar bernuansa putih dan abu abu seorang gadis sedang terlelap diatas kasur queen size nya, Dia adalah Cia. Tok.. Tok.. Tok.. "Cia bangun udah siang" Seorang pria tengah berteriak untuk membangunkan adiknya itu sambil menggedor-gedor pintu. Dia adalah Alvano Dastan Smith biasa dipanggil Vano, Vano kakak kedua dari Cia. Kakak pertama Cia bernama Alando Dareen Smith bisa dipanggil Alan. Sedangkan nama Cia sendiri Febricia Zee Kirania Smith. "Woii dek kebo banget si lo!! Udah siang ini" Namun sayang yang ia dapat hanyalah keheningan dari kamar itu. Akhirnya Vano pun mencoba membuka pintu dan ternyata... "Huft tau gini gakusah capek-capek teriak sambil gedor-gedorin pintu kalo ternyata kagak dikunci bikin sakit tangan aja" Kesal Vano dengan menghela nafas kasar.
All Rights Reserved
#263
cia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Avyan (End) ✓
  • ALGHAVI (S1) || REVISI
  • limited to friends or falling in love '?'
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • Aku Bukan Dia ( kita Berbeda )
  •   Dia nadine
  • The End of Keyra's Revenge
  • SHIVA
  • IMELIA masa kecil  [COMPLETED]
  • Still You

(Baca selengkapnya hanya di KaryaKarsa) Avyan tumbuh dengan beban masa lalu yang tak pernah bisa ia hapus. Kehadirannya di dunia dianggap sebagai kesalahan, membuatnya terasing bahkan di tengah keluarganya sendiri. Sejak kecil, ia hidup bersama sang nenek, hingga suatu hari ayahnya datang dan memutuskan membawanya pulang untuk tinggal bersama kakak-kakak tirinya. Awalnya, Avyan berharap menemukan kehangatan yang selama ini hilang, tetapi kenyataan berkata lain. Di depan ayah mereka, kakak-kakaknya tampak peduli, tetapi saat ayah pergi, sikap mereka berubah menjadi dingin dan penuh kebencian. Tatapan tajam dan kata-kata menyakitkan terus menghantui langkah Avyan. Bisakah Avyan meruntuhkan tembok kebencian yang mengelilinginya? Akankah ia menemukan tempat yang disebut rumah, atau selamanya terkurung dalam bayang-bayang kesalahan yang bukan miliknya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines