Sejak kecil, ia tumbuh tanpa pernah benar-benar merasa cukup.
Ia sering dijadikan bahan ejekan hanya karena berbeda. Fisiknya dihina, keberadaannya diremehkan, dan usahanya tak pernah dihargai. Bahkan saat ia mencoba menjadi anak yang membanggakan, dunia tetap memilih untuk menutup mata. Termasuk orang-orang terdekatnya.
Di titik terendah, ia mulai percaya bahwa mungkin benar "ia tak pantas dicintai."
Tak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Tak ada yang memeluk saat ia rapuh, hanya ada tuntutan, perbandingan, dan kata-kata yang perlahan membuatnya percaya, tapi mungkin dirinya memang tidak pantas dicintai.
Tapi di balik semua luka, ia menyimpan satu hal yang tak pernah benar-benar padam, yaitu harapan. Bahwa suatu hari, ia bisa berdiri bukan untuk membuktikan apa pun, tapi untuk mencintai dirinya sendiri, meski tak pernah diajarkan caranya.
جميع الحقوق محفوظة