Bingkisan Rindu

Bingkisan Rindu

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 21, 2021
Namaku Rania, nasibku tak seberuntung saudara-saudara kandungku yang begitu disayang oleh ayah dan ibu. Mereka berdua menganggapku sebagai 'anak pembawa sial' hanya karena sebuah buku berjudul Primbon. Rumah tempatku bernaung ini lebih tepat jika aku sebut sebagai nerakanya dunia, dan orang-orang disekelilingku sebagai malaikat pencabut nyawa. Bagaimana tidak? Aku terbangun di pagi hari dengan perasaan sesak menahan gejolak kerinduan. Ya, rinduku tentang rindu seorang anak pada kedua orang tuanya. Mengharap dalam doa agar diperlakukan sama dengan para saudara kandungku. Benci? Inginnya begitu, tetapi entah mengapa semakin aku mencobanya, semakin dalam pula rasa rinduku ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Regan dan Cintanya [END]
  • Jejak wasiat kakakku
  • Di Balik senyumanku
  • EXCUSE ME [END]] REVISI
  • SACRIFIER | ONGOING and REVISION
  • FAULT  [END]
  • RANIA [Revisi]
  • Rumah Untuk  Teduh
  • Tenggelam Dalam Dasar [END]

"Aquila hamil anak aku, Bunda!" suara serak itu membuat semua orang terkejut. Aquila yang akan membuka pintu menegang, ia tak menyangka Regan akan sadar saat dirinya belum pergi dari sana. Ditambah lagi kini Renatha menatap Aquila dengan tatapan datar, tak ada senyum hangat seperti biasanya. Gadis itu benar-benar takut dengan apa yang terjadi selanjutnya karena tatapan Renatha benar-benar berbeda. " Kenapa kamu gak jujur? Kamu mau bunuh anak itu atau masih mau mempertanyakan dia ? Bunda kecewa sama kamu Aquila, harusnya kamu ngomong sama Bunda" kata Renatha dengan air mata yang mulai berjatuhan. "Aquila nggak mau masa depan Regan hancur karena anak yang Aquila kandung." jawabnya pelan. "Hidup aku yang akan hancur, kalau kamu pergi begitu aja tanpa memberitahu kebenarannya. Aquila!" tandas Regan, matanya sudah berkaca-kaca karena perkataan Aquila. "Bunda kecewa sama kamu, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu. Hidup keluarga kami yang akan hancur jika kamu nggak jujur, nak." kata Renatha pelan. Sebagai seorang wanita yang pernah mengalami hal yang sama, tentu Renatha tau betul apa yang Aquila rasakan. Ia juga pernah mengalami itu saat hamil si kembar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines