Satu Langkah

Satu Langkah

  • WpView
    Reads 918
  • WpVote
    Votes 135
  • WpPart
    Parts 54
WpMetadataReadComplete Mon, May 25, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Happy Ending
Slice of Life
Highschool
⊱ ────── {⋅. ✯ .⋅} ────── ⊰ Laki-laki itu suka mengenakan pemerah bibir dan papan seluncur sebagai kendaraannya. Sementara yang perempuan, tergila-gila dengan buku astronomi tebal dan membawanya ke mana-mana. Dua orang aneh, mereka bilang. Bahkan si perempuan pun mengakui keanehan laki-laki itu. Namun, si laki-laki justru melakukan hal sebaliknya, dia mengagumi perempuan itu dan kebiasaan anehnya. Hal-hal terjadi begitu saja untuk membawa mereka berhadapan. Termasuk menyatukan semua rahasia mereka berdua menjadi sebuah cerita. Semua rantai yang lama putus, pelan-pelan tersambung kembali. Segala tentang mereka bergulir dari satu langkah di antaranya. ⊱ ────── {⋅. ✯ .⋅} ────── ⊰ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ✦fiksiremaja oleh Vania Erlina
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines