Mengejar Cinta KHADIJAH

Mengejar Cinta KHADIJAH

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 31, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
REVAN TRIHARJA "Bagaimana bisa aku sampai dalam keadaan dan posisi ini kalau bukan Allah yang sudah mengatur semuanya. Ntah kenapa aku bisa mengagumi perempuan seperti Khadijah yang tidak seimbang dengan diriku. Akankah aku bisa mengejar cinta Khadijah?" BUYA IMRAN RIFKY "Kau tidak bisa merubah dirimu menjadi lebih baik hanya karena makhluk yang masih diciptakan-Nya lebih baik darimu." KHADIJAH SALSABILA RAYHANA "Kita tidak akan bisa mengejar cinta Makhluk-Nya, jika cinta pencipta nya belum kita dapatkan."
All Rights Reserved
#44
skenario
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Gus Ibra My Husband
  • Masjid Agung Kiai Ma'sum
  • Gus Alfathar (SUDAH TERBIT)
  • Janji Syawal #1 (End)
  • Dear Kekasih Halal
  • 𝐏𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚𝐚𝐧
  • Aldhefara (Re upload)
  • Seindah Senja Kala Hujan
  • Jodoh Terhalang Restu

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines