Nuki's Diary
  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 29, 2021
Sebagian orang menganggap menulis diary adalah hal yang alay dan ketinggalan zaman. Katanya, masalah harus dipendam sendiri atau diceritakan bersama orang tersayang. Nuki, gadis yang biasa saja, menolak statement konyol itu. Menurutnya, beberapa hal tidak bisa dipendam dan diceritakan dengan orang lain. Diary, membuatnya tetap hidup waras meskipun masalah hidup datang bertubu-tubi. Banyak hal yang ingin ia bagikan dengan selembar kertas. Bagaimana dengan kamu? Mau mencoba menulis diary seperti Nuki?
All Rights Reserved
#186
selflove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Suddenly Marriage
  • Diary Salsa
  • The Man
  • Shatter ✓
  • Kertas Bahasa Hati
  • Two Wedding
  • 9096 (Complete)
  • ALEYA~~
  • DEAL | Friend Into Lover| Lengkap✔

"Mi, kemarin Pak Kades dan istrinya datang ke rumah. Dia ingin meminang kamu untuk menjadi istri anaknya," ucap Mama yang membuatku seketika langsung menghentikan kunyahan. "Mama kalau bercanda jangan pas lagi makan dong, nggak lucu kalau tiba-tiba aku tersedak terus meninggal," ucapku sambil tertawa. "Mama serius." Aku langsung melihat wajah mamaku, dari matanya aku bisa melihat keseriusan. Mendadak aku jadi merinding. "Jangan bercanda mulu dong, Ma, mana mungkin Pak Kades tiba-tiba melamar aku buat anaknya. Lagian aku nggak kenal sama anaknya Pak Kades," ucapku masih menyangkal kalau yang mamaku katakan bukanlah candaan. "Mama nggak lagi bercanda, Mi, Mama serius." Tenggorokanku serasa tercekat ketika mendengar perkataan Mama, "Ma, jadi ini serius?" Mama mengangguk dan itu membuat tubuhku seketika melemas. "Apa ini alasan Mama minta aku cepat-cepat pulang?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Mama. "Terus Mama jawab apa? Mama nolak 'kan?" tanyaku mulai was-was. "Ayah kamu sudah menerima, katanya nggak enak menolak tawaran Pak Kades. Kapan lagi 'kan kita bisa besanan sama orang terpandang?" Rahangku hampir saja lepas dari tempatnya saat mendengar jawaban Mama. "Nanti malam Pak Kades datang lagi ke sini sekalian bawa anaknya, mereka mau melamar kamu secara resmi." Aku semakin gila setelah mendengar sambungan perkataan Mama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines