Empat Langkah Menuju Cahaya
51 Часть В процессе Empat Langkah Menuju Cahaya
Jakarta selalu terlihat kuat dari kejauhan.
Gedung-gedung di SCBD berdiri seperti simbol keberhasilan.
Kaca-kaca tinggi memantulkan matahari, seolah kota ini tak pernah kekurangan cahaya.
Di antara gedung-gedung itu, empat orang berjalan dengan langkah masing-masing.
Clara Nara Maheswari-yang lebih dikenal sebagai Nara-datang setiap pagi dengan wajah tenang dan pakaian sederhana yang tak pernah menunjukkan dari mana ia berasal. Tak ada yang tahu ia meninggalkan rumah besar di Pondok Indah setiap akhir pekan. Tak ada yang tahu ia memilih tinggal di kamar kos kecil hanya untuk belajar hidup biasa.
Adrian Gabriel Pratama duduk paling awal di ruang kerja. Baginya, pekerjaan bukan sekadar karier. Itu adalah bukti bahwa ia mampu berdiri sendiri. Tanpa orang tua. Tanpa warisan. Tanpa sandaran.
Nadira Ayuningrum sering datang sedikit tergesa, dengan senyum yang terlalu mudah dan cerita-cerita kecil yang kadang membuat orang tertawa. Tak ada yang tahu bahwa setiap malam ia menghitung sisa tabungan sambil memikirkan ibunya di Jogja.
Dan Raka Wiratama selalu masuk dengan langkah santai, kunci mobil berputar di jarinya. Orang melihatnya sebagai anak pejabat yang hidupnya sudah selesai bahkan sebelum dimulai. Padahal ia masih mencari satu hal sederhana: pengakuan.
Mereka bekerja di gedung yang sama.
Menghirup udara yang sama.
Melihat langit Jakarta yang sama.
Namun belum pernah benar-benar saling mengenal.
Sampai sebuah perjalanan kerja membawa mereka ke tempat yang jauh dari gemerlap kota-tempat di mana cahaya tidak datang dari lampu-lampu tinggi, melainkan dari mata anak-anak yang tetap bermimpi meski ruang kelasnya hampir roboh.
Di sanalah, tanpa mereka sadari, empat langkah yang berbeda mulai bergerak ke arah yang sama.
Menuju cahaya.