Just women in love

Just women in love

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 22, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Tidak ada yang menarik dariku sungguh. Berkali-kali aku ingin pergi dari dunia ini tapi tuhan tak kunjung mengabulkannya, aku hanya lelah untuk hidup. lalu dia datang, kita bagai orang asing yg disatukan atas nama perjodohan, klasik memang. Namun ketika kau berumur 28 tahun tanpa pasangan tanpa ada orang yang dekat, orangtuamu akan gelisah karna tanganmu tak kunjung terisi cincin dan mukamu muram tak kunjung dapat tempat berlabuh karna terobang ambing dengan lautan kebosanan hidup. Dan aku bertemu dengganya, yang dalam bayanganmu mungkin seorang yang pada akhirnya akan menjadi teman menghabiskan hidupku yg membosankan didunia ini. Percayalah, ketika aku bertemu dengannya, matanya terlihat seperti mataku saat aku berkaca. ... sebuah draf cerita ntah kapan kubuat di notepad.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Angel's Rebelians [END]
  • REMEMBER
  • My handsome detective [Chrisdel] [END]
  • AFTER (COMPLETE)
  • Diantara Luka
  • Embun Pagi
  • kau bukan rumah

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines