Lakuna Amerta

Lakuna Amerta

  • WpView
    Reads 215
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 23, 2022
"Dinda, menurutku pelajaran paling mudah di dunia ini adalah ikhlas. Bagaimana kamu menerima kesulitan, bagaimana kamu menerima keadaan dan yang terutama adalah bagaimana kamu menerima takdir. Buktinya, aku ikhlas nerima semuanya." - Adhitama Aji Lakuna. _____________________ ".....Din, kamu belajar ikhlas dari siapa?" "Aji." - Adinda Amerta. _____________________ Aji merupakan penyandang difabel intelektual, yang mengalami kesulitan dalam berbicara, bergaul, dan bahkan merawat dirinya sendiri. Kekurangan itu ia derita sejak lahir dan karena kekurangannya, Aji selalu menjadi bahan olok-olokan di sekolahnya. Ia mendapat julukan di sekolahnya sebagai si "idiot" karena selalu bertingkah aneh dan membuat orang disekitarnya takut. Sampai pada saat ia bertemu dengan Dinda, perempuan yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang dengannya. Dan hanya Dinda yang memandang Aji layaknya manusia. Lakuna Amerta adalah gabungan dari kedua nama mereka. Lakuna adalah ruang kosong sedangkan Amerta adalah keabadian. Semesta mempertemukan mereka untuk memberi tahu, bahwa ruang kosong itu akan memberikan keabadian untuk dia yang ditakdirkan. ©gloriousgurll, 2022
All Rights Reserved
#8
ruangkosong
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • ARAKHA
  • My Eternal Moon [ End ✔️]
  • Hilang
  • TRANSMIGRASI 3 SAHABAT (Revisi)
  • NALA KEENARA [Hiatus]
  • Analog Melankolis
  • ALLAND

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines