JAMANIKA
  • WpView
    Leituras 10,344
  • WpVote
    Votos 2,565
  • WpPart
    Capítulos 36
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização dom, ago 15, 2021
[S E L E S A I] "Urip iku urup." Falsafah itu yang mengantarkan Zulfikar, beserta kedua saudaranya, Husain dan Mirza untuk menjalankan misi di sebuah desa bernama Jamanika. Berbekal janji dari Alif---tunangannya---yang harus Zulfikar tepati, dia berangkat, meski dia sendiri tidak tahu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi selama misi. Semua semakin runyam ketika pertemuannya dengan seorang gadis desa dalam misi yang bernama Galuh. Zulfikar terjerat bersama Galuh yang ternyata ada konspirasi di dalamnya. Lantas, bagaimana kisah ini akan berakhir?
Todos os Direitos Reservados
#584
kepercayaan
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Langit Untuk Laut
  • SENSEI, ASSALAMUALAIKUM DESU!
  • SEMESTA YANG KU CARI
  • Tasbih Pembawa Jodoh
  • Dikhianati Tuhan
  • HIDAYAH CINTA UNTUK ZHAFIRA (TERBIT)
  • LUMEN: Awal Perjalanan Takdir
  • Sieg : Like Shadow In The Light
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]

Maura Elvaretta Zahira, gadis ceria berambut panjang yang selalu tampak bersinar di mata orang-orang. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka masa kecil yang belum sembuh-kehilangan ayah yang ia cintai dan ibunya yang menikah kembali. Meski rapuh di dalam, Maura tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan pekerja keras. Ia ceroboh, sering gegabah, dan tak jarang memainkan rasa percaya dirinya untuk menutupi ketakutan yang tak pernah ia akui. Lalu ada Mahzan Rafiq Al Muaffaq-siswa kelas dua SMA yang dikenal pendiam, dan tenang. Putra pemilik pesantren dan seorang dokter ini tumbuh dalam nilai-nilai agama yang kuat. Ia merupakan murid kebanggaan guru. Mereka dipertemukan di SMA. Dalam riuhnya masa remaja, Maura jatuh hati lebih dulu. Ia tak menunggu waktu terlalu lama untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Mahzan menolak-bukan karena tak ada rasa, melainkan karena ia tahu, cinta tak cukup hanya dengan saling suka. "Aku bukan tak ingin, Maura. Tapi kita punya Tuhan yang mengatur waktu. Dan saat ini, belum waktunya kita jadi satu."

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo