LUKA
  • WpView
    LECTURAS 30,437
  • WpVote
    Votos 2,975
  • WpPart
    Partes 10
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, jul 3, 2023
"Gue selingkuh," Gadis dengan dress kuning tanpa lengan itu tersenyum kecil melihat laki-laki di hadapannya. "Iya, aku tau." Laki-laki dengan luka di sudut bibir itu menghela napas kesal, melihat respon gadis di hadapannya. "Lo nggak minta putus?" "Nggak," Gadis itu menggeleng. Senyumnya masih bertahan. Tangan mungilnya bergerak merapikan rambut laki-laki dihadapannya dengan lembut. Laki-laki itu segera menangkap tangan itu, menggenggamnya sembari meremasnya gemas. "Kenapa?" "Nggak papa." "Serius, gue tanya kenapa selama ini lo nggak minta putus sama gue?!" Decakan kuat dari bibir laki-laki itu, menandakan bahwa ia tengah dilanda kesal sekaligus bingung. Gadis itu melunturkan senyumnya, matanya menatap kosong ke arah genggaman tangan mereka. Lalu ia berkata dengan tenang, "karena aku-" Ia menghentikan ucapannya sejenak. Lalu berkata dengan pelan. "Karena aku udah terlalu nyaman sama kamu." *** ''Aku berterimakasih kepadamu. Karena kamu, aku bisa merasakan jatuh cinta, yang ternyata begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan untuk dirasakan.'' -LUKA-
Todos los derechos reservados
#165
karel
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Zenna Story
  • AYARA [END]
  • King Bullying [TELAH TERBIT]
  • DIA MATAHARI 2: I'M THE WINNER
  • ZENARZEL [SELESAI✔]
  • 00.00
  • TOXIC Relationship
  • We Are One
  • Favorite Wound

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido