"Hari ini gue jalan sama Livy," ujar Alaska dengan antusias. "Dia ngajak gue ke taman, dan kita duduk di bawah pohon, ngobrol sampai sore."
"Gue seneng dengernya,"
"Dan lo tau nggak? Hari ini Livy bikinin gue bekal," Alaska kembali bercerita, kali ini dengan senyum yang lebih lebar. "Dia bilang dia pengen gue makan makanan sehat, jadi dia bikinin salad dan sandwich buat gue."
"Oh ya? Kayaknya dia emang perhatian banget sama lo," sebuah jawaban serta seutas senyuman manis yang tak akan pernah bosan Alaska lihat.
Alaska tidak pernah menyadari senyum itu, senyum yang berusaha menutupi luka. Baginya, sosok pemuda di depannya adalah pendengar setia, sahabat terbaik yang selalu ada. Namun, di balik setiap senyum yang diberikan, ada hati yang perlahan hancur, setiap kali nama Livy disebut, setiap kali Alaska bercerita tentang kebahagiaannya, dan setiap kali Alaska berkata, "Rasa-rasanya gue makin yakin kalau Livy adalah orang yang tepat buat gue," akan ada hati yang semakin menyusut, terkikis oleh kenyataan pahit. Hati yang merasa semakin hancur, meskipun berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya di balik senyuman yang terpaksa.
Bagi seorang Alaska, sosok pendengar di depannya adalah sahabat yang selalu siap ada untuknya, memberi saran, dan mendukung. Tapi bagi pemuda itu, setiap detik percakapan Alaska adalah pengingat bahwa cintanya yang tulus tak akan pernah terbalas.
"Ini abang pijet ya, awalnya agak sakit tapi lama-lama juga enakan."
Perlahan Alan memijat kaki adiknya itu. Kulitnya yang halus licin itu terasa luar biasa di telapak tangan Alan.
"Ahh sakit, ouhhh pelan pelan abangg."