Diam-diam, Bima Sevanxa menyaksikan pertandingan bola basket tim putri. Ia ingin memastikan, apakah benar bahwa Ayra Kamilia, sang ketua tim basket, adalah gadis yang dulu sangat ia sayangi? Waktu, perlahan, akan memberikan jawabannya.
Dengan berbagai cara, Bima berusaha mendekati Ayra. Sebagai senior, ia mengajukan diri untuk menjadi pelatihnya, dan pak Yoga, guru olahraga mereka, pun menyetujui.
Tanpa disadari Ayra, ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Bima. Mereka menjadi semakin dekat, tak terpisahkan. Tiada hari tanpa Bima, tiada hari tanpa Ayra.
Namun, seiring berjalannya waktu, sifat asli mereka mulai terungkap. Ayra yang keras kepala dan Bima yang egois. Dua pribadi yang sama-sama sulit untuk tunduk satu sama lain.
Ada kalanya, mereka merasa terluka. Ayra merasa tersakiti oleh Bima, dan Bima merasa terluka oleh Ayra.
Akankah Bima tetap setia di sisi Ayra, seperti yang ia janjikan, atau justru Ayra tak akan pernah menemukan kebahagiaan sejatinya?
Hidup Maya penuh dengan kejutan yang tak terduga. Masa lalu keluarganya begitu kelam, mulai dari kecelakaan hingga kehilangan sang kakak yang meninggal secara tragis karena dibunuh oleh seseorang yang tampaknya menyimpan dendam pada keluarganya. Meski begitu, Sherina, teman sekelas Maya selalu ada untuknya, memberi semangat dan dukungan yang tak ternilai.
Kasus pembunuhan kakaknya masih belum menemukan titik terang. Pelaku sesungguhnya belum diketahui-mungkin target aslinya bukan sang kakak, melainkan orang lain di keluarga mereka. Atau bisa jadi, tujuan si pelaku sudah meninggal lebih dulu, sehingga ia melampiaskan dendamnya pada anggota keluarga lain, yakni kakak Maya.
Di tengah luka dan misteri itu, Maya juga menyimpan kisah manis dalam hatinya. Ia menyukai kakak kelasnya, Arshaka-atlet basket kebanggaan sekolah. Awalnya, Maya hanyalah bagian dari kumpulan fans Arshaka. Namun perasaannya berkembang. Ia ingin lebih dari sekadar pengagum. Ia ingin mengenalnya lebih dekat, menjadi teman, atau mungkin lebih dari itu.
Tapi Arshaka pun bukan sosok yang tanpa luka. Masa lalunya tak kalah rumit. Sejak kecil, ayahnya menghilang. Kata ibunya, sang ayah meninggalkan mereka begitu saja. Namun, semakin Arshaka tumbuh dewasa, ia mulai menyadari bahwa semua cerita ibunya adalah kebohongan.
ғᴏʀ 13+