Diam-diam, Bima Sevanxa menyaksikan pertandingan bola basket tim putri. Ia ingin memastikan, apakah benar bahwa Ayra Kamilia, sang ketua tim basket, adalah gadis yang dulu sangat ia sayangi? Waktu, perlahan, akan memberikan jawabannya.
Dengan berbagai cara, Bima berusaha mendekati Ayra. Sebagai senior, ia mengajukan diri untuk menjadi pelatihnya, dan pak Yoga, guru olahraga mereka, pun menyetujui.
Tanpa disadari Ayra, ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Bima. Mereka menjadi semakin dekat, tak terpisahkan. Tiada hari tanpa Bima, tiada hari tanpa Ayra.
Namun, seiring berjalannya waktu, sifat asli mereka mulai terungkap. Ayra yang keras kepala dan Bima yang egois. Dua pribadi yang sama-sama sulit untuk tunduk satu sama lain.
Ada kalanya, mereka merasa terluka. Ayra merasa tersakiti oleh Bima, dan Bima merasa terluka oleh Ayra.
Akankah Bima tetap setia di sisi Ayra, seperti yang ia janjikan, atau justru Ayra tak akan pernah menemukan kebahagiaan sejatinya?
Kalau ada satu orang yang selalu bikin Aira kesal tiap pagi masuk kelas, jawabannya cuma satu: Arga, si tukang ejek, tukang senyum miring, tukang nyebelin-tapi entah kenapa, hatinya selalu deg-degan tiap cowok itu datang.
Bagi Arga, ejekan itu caranya menjaga jarak dari rasa yang terlalu dalam. Karena sesungguhnya, Aira bukan sekadar teman sekolah biasa. Ia adalah gadis kecil bermata sedih yang pernah ia tolong saat jatuh di jalan berlumpur puluhan tahun lalu. Gadis kecil dengan seragam sekolah dan pita merah di rambutnya, yang tersenyum malu-malu dan bilang terima kasih... sebelum akhirnya berlarian ke arah keluarganya yang sepertinya akan pergi meninggalkan rumah.
Arga ingat. Aira tidak.
Saat mereka dipertemukan kembali di usia dewasa-di sekolah yang sama, di kelas yang sama-Aira sudah menjadi perempuan yang dingin, keras kepala, dan angkuh. Tapi bagi Arga, ia tetap anak kecil yang dulu pernah ia bantu, yang senyumnya pernah membuat hatinya hangat. Arga mengenali Aira,, Arga ingat jelas nama gadis kecil yang ditolongnya dulu dari nama di seragam sekolahnya. Aira kaisha eliana.
Jadi Arga memilih satu cara untuk mendekat: ejekan. Setiap ledekan, setiap adu mulut kecil, adalah bentuk rindunya yang lama dipendam. Tapi Aira? Ia terlalu bangga untuk bertanya, dan terlalu tertutup untuk merasakan.
Dan ketika cinta sudah hadir di hati Aira, mereka harus berpisah untuk selamanya. Arga hanya menerimanya meski hancur, hanya kata selamat.
Lalu pergi.
Dan tak pernah kembali.
Mereka bukan siapa-siapa. Bukan sepasang kekasih. Bukan sahabat. Tapi pernah saling jatuh cinta diam-diam-dan itu cukup untuk dikenang seumur hidup.