Awan menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata yang meneduhkan, seperti mencoba menerjemahkan setiap rasa sakit yang tak bisa terucap. "Yang penting itu bukan siapa yang akan tinggal atau pergi nantinya, tapi yang paling penting itu gimana cara lo belajar buat menerima dan mengikhlaskan. Kehilangan gak akan terasa sesakit itu lagi kalau lo tahu caranya," kata Awan. Perlahan, ia mengamit jemari Letta. Gadis itu sempat berusaha melepasnya, namun Awan menggenggam lebih erat, memberi kehangatan di tengah dinginnya angin yang menyelinap dari jendela kamar yang terbuka. Letta terdiam sesaat, menunduk, namun akhirnya suara pelannya pecah. "Gimana caranya?" "Nanti Kita berdua yang bakal cari tahu hal itu sama-sama, Let."
Más detalles