Für Elise : Another Me

Für Elise : Another Me

  • WpView
    Reads 182
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 30, 2021
Semenjak kepergian Kakek dan Nenek, aku merasa sisa hidupku hanya akan diisi dengan kesedihan. Semuanya, penuh akan aura suram. Kesuraman, yang tentu saja identik dengan kesedihan dan kesendirian. Aku hanya berharap pada keajaiban. "Kau harus percaya pada keajaibanmu. Keajaiban yang kau temukan, kau harus mempercayainya." Kata-kata itu termasuk kenangan bercahayaku bersama Kakek dan Nenek. Sampai pada saat ini, aku masih mempercayai kalimat itu. Rasanya kalimat itulah yang bisa menghangatkan suasana hatiku. Keajaiban mungkin terdengar tidak masuk akal di dunia ini. Tapi, apapun itu, harapanku tidak akan bisa dipupuskan begitu saja. Aku percaya keajaiban. Aku yakin aku bisa menciptakannya, keajaiban dalam versiku. Keajaibanku sendiri. Hingga pada malam natal hari itu... "Ada apa, Alice? Ini keajaibanmu, lho." ...aku menemukan makna sebenarnya dari perkataan Nenek.
All Rights Reserved
#300
myself
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Eshal Renjana (Lengkap)✔
  • GEVRONZ
  • Ananta Bandhana
  • Miracle When Sunset
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • l'm Fine :) [ON GOING]
  • BEAUTY IS EVERYTHING
  • Mirari : Melodi Semesta [END]

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines