Catatan Kaki Lestari

Catatan Kaki Lestari

  • WpView
    Reads 353
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 27, 2021
Orang bilang, cinta itu berjuta rasanya. Tapi bagiku cinta lebih sering memusingkan kepala. Aneh ya, ada anak sepertiku yang lebih memilih jalan keluar dan berpetualang dibandingkan hidup selayaknya gadis normal. Lahir, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan hidup sebagai keluarga bahagia. Itu adalah mimpi banyak orang, mungkin termasuk aku (dulu). Sekarang? Aku lebih memilih berjalan sesuai kata hati. Karena aku percaya, kelak aku tua takkan ada lagi yang aku sesali.
All Rights Reserved
#444
alam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Elegi Di Atap Sumatera Series
  • Haruskah Aku Berhenti
  • BATAS RASA (TERBIT)
  • Kepada Rindu Yang Semestinya
  • Terlambat Jatuh Cinta
  • Tuhan, Aku Sayang! (TAMAT)
  • Jangan Bermain Cinta dengan Mapala

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines