A débuté

A débuté

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 31, 2021
Sun, dengan sebutan itu ia merasa dirinya seperti matahari yang dapat menerangi hati seseorang. Dengan kehadirannya dia bisa membuat orang yang mencintainya menerbitkan senyuman yang menghangatkan. Ila dengan panggilan ini ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi bintang. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi satu-satunya cahaya yang sangat diharapkan kehadirannya dalam kegelapan. Bersama Rey ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi ratu yang di sanjung. Merasakan kenyamanan tanpa dekapan. Merasakan keamanan tanpa penjagaan. Bersama Lassky ia menjadi pemberani. Dia berani melawan rasa takutnya. Dia berani berjalan dalam kegelapan Tanpa cahaya. Karena ia tau bahwa dirinyalah cahaya itu. Kita tidak bisa memilih takdir kehidupan yang akan kita jalani, kita tidak bisa menentukan apa yang terjadi selanjutnya, kita tidak bisa memilih siapa saja yang tinggal dan siapa yang pergi. Tapi, kita bisa memilih untuk melihat dunia ini seperti seperti apa, kita bisa memilih untuk menjadi baik atau jahat.
All Rights Reserved
#375
terbaru
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rainbow In The Rain
  • Loving Like The Sun
  • Bahagia & Luka (END)
  • Auristela
  • GRIZLEN {On Going}
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • dialah yang terbaik
  • LUKA [END]

"Kamu sengaja kan mau di tabrak sama cowok tampan sepertiku? Terus kamu pura-pura kesakitan dan minta diobatin?" Kevin malah menuduh yang enggak-enggak. "Ciih~Enak aja. Aku gak serendah itu ya, lagian kamu kegeeran banget sih. Aku tadi cuma mau minta tolong aja kok." ia mengotot keras dan mengangkat kedua bahunya. "Terserah!" Kevin memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya kembali. "Eh, bantuin dulu kenapa. Jahat banget itu orang, awas aja kalo butuh bantuan!" Jenie ngomel sendirian sambil menendang sepedanya. "Dia kan pinter ya, mana mungkin minta bantuan sama aku. Yang ada juga malahan aku yang minta bantuan dia, tapi itu gak bakalan terjadi. Gak level banget Jenie minta bantuan dia." Jenie memukul kepalanya karena dia bertingkah bodoh dan konyol Hari ini hujan turun lagi, Jenie membawa kursi rodanya berjalan kedepan jendela kamarnya yang tepat memandangi seisi kota. Hujannya lebat, suara gemuruh dan petir mengagetkan gadis itu. Dia mencoba membuka matanya dan tak menutup kedua telinganya, matanya tertuju pada sebuah pemandangan indah diluar sana. Tepat di atas langit pelangi muncul bersama dengan hujan, ini adalah kedua kalinya dia melihat keajaiban itu lagi. Tapi sekarang rasanya beda, dia melihat keindahan itu tanpa Kevin disampingnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines