Timur
  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 9, 2022
"Lepasin gue, gue nggak tahu apa-apa soal kejadian itu. Gue bukan pelakunya!" sergah Timur, pada mereka yang telah mengikat tangannya. Matanya tertutup oleh kain yang cukup membuatnya tidak mampu melihat apa-apa disekitar. Bahkan ia tidak tahu, tempat apa yang kini ia tempati. Bau yang bukan khas, tidak seperti jalan ataupun tempat yang pernah di laluinya. Semuanya asing, bahkan terasa sangat sangat asing dalam indera tubuhnya. * Andai lu-lu semua tahu, gue berusaha menjaga kesenangan orang, dan gue selalu berkorban buat keselamatan orang-orang terdekat gue, orang-orang yang gue sayang, dan gue pastikan, salah satunya elu, cewek yang gue pertama lihat di ruangan BK, cewek yang saat gue lihat; pikiran gue serta pikiran elu terlintas seolah dalam satu arah, dan cewek yang selalu bikin gue kena masalah tiap ketemunya ... tapi gue merasa senang akan hal itu, baru pertama kalinya gue beruntung masuk ruangan BK, dan semua itu gara-gara elu. Cewek yang sekaligus membuat gue sengsara dan bahagia. Langsung saja, kali ya! biar tidak bertele-tele
All Rights Reserved
#251
masasekolah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • My Girlfriend is a Ghost
  • The Multiple Personality
  • Full Of Scratches
  • Sekala dan Hantu Tanpa Kepala
  • Kelas A [End]
  • jangan percaya seseorang
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • My Mystery School [ Complited ]
  • Unseen [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines