Pemberianku Untuk Buaya(h)

Pemberianku Untuk Buaya(h)

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 6, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
cover by ibisPaint X Sekarang kebetulan hari Senin. Biasanya kalau di hari Senin itu ada jamnya Bu Rona. Guru Prakarya gue yang terkenal sangat disiplin di sekolah. Saking disiplinnya lima belas menit sebelum jam prakarya dimulai udah ada dikelas. Murid-muridnya di wajibkan mengumpulkan tugas tepat waktu. Kalau telat bakalan di telan abis-abisan tuh. Kasihan banget. Gue sih belum pernah dan kagak mau ngerasain yang begituan, makanya gue rajinin tuh mapel prakarya. *** Jangan lupa follow terus komen and share, thank you
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALYA
  • REANDRA [END]
  • #TimRusuh •ו Lokal AU
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Annoying Girl (Selesai)
  • 𝙶𝚛𝚒𝚣𝚎𝚕𝚕𝚎  [ℍ𝕀𝔸𝕋𝕌𝕊]
  • NOISY SOUL [Ongoing]
  • Alettha
  • F A K E ? [End]
  • the love story of a FA
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

More details
WpActionLinkContent Guidelines