Coffee Love

Coffee Love

  • WpView
    Reads 58,892
  • WpVote
    Votes 5,062
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 1, 2026
"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi seperti yang gue sebutkan tadi, Na." "Bukan berarti tidak ada yang lebih baik, tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk menemukannya." "Jadi gimana?" "Gue setuju, Mas. Akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan yang lebih baik, dan bahkan mungkin akan jadi penyesalan seumur hidup jika tidak mengambilnya." "Jadi?" Aku mengangguk. "Ayo pacaran, Mas."
All Rights Reserved
#23
walikota
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • TITIP SALAM ( TAMAT ✅)
  • Tingkat Tiga
  • WANG (COMPLETED)
  • Si Bandel Kesayanganku
  • COMEBACK MANTAN [TAMAT]
  • He Was My First Kiss
  • SHELTER (Completed)
  • Falling In Love With Mr. Walikota (END) - SUDAH TERBIT
  • Jungkir Balik

Seratus Meter dari Hatimu Dulu, kupikir jarak paling rumit adalah antara dua kota. Antara kampung halaman dan ibu kota. Antara kenyamanan yang kutinggalkan dan dunia baru yang sedang kucoba taklukkan. Tapi ternyata, jarak yang paling sulit bukan soal kilometer atau waktu tempuh. Jarak paling rumit adalah seratus meter dari hatimu-tempat aku berdiri, tapi tak pernah benar-benar kau sadari. Segalanya berawal biasa saja: kos baru, teman sekamar yang bawel tapi hangat, lingkaran pertemanan yang mengisi hariku dengan tawa, tugas, kopi sachet, dan obrolan tengah malam. Aku merasa cukup. Nyaman. Aman. Hingga seseorang hadir dengan caranya yang tak terduga. Terkadang ceplas-ceplos, kadang diam dan terlihat jauh. Dia bukan tokoh utama di hidupku, bukan pula pangeran dalam kisah dongeng. Tapi entah kenapa, perhatian kecilnya terasa seperti rumah dalam keriuhan kota. Sayangnya, tak semua rasa harus tumbuh. Dan tak semua perhatian berarti istimewa. Ini kisahku, Caca. Seorang mahasiswi yang mencoba bertahan di antara tumpukan tugas, tawa tongkrongan, dan teka-teki bernama Arvin. Ini tentang dua circle pertemanan, dua sisi dunia, dan satu rasa yang pelan-pelan ingin ku bungkam. Karena terkadang, menyukai seseorang tak harus dimiliki. Cukup dilihat dari kejauhan-seratus meter, atau bahkan lebih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines