Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.
Saiba mais
Coffee Love

Coffee Love

  • WpView
    Leituras 59,011
  • WpVote
    Votos 5,062
  • WpPart
    Capítulos 33
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização dom, fev 1, 2026
WpInfo
Ficção
Romance
"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi seperti yang gue sebutkan tadi, Na." "Bukan berarti tidak ada yang lebih baik, tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk menemukannya." "Jadi gimana?" "Gue setuju, Mas. Akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan yang lebih baik, dan bahkan mungkin akan jadi penyesalan seumur hidup jika tidak mengambilnya." "Jadi?" Aku mengangguk. "Ayo pacaran, Mas."
Todos os Direitos Reservados
#23
walikota
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • WANG (COMPLETED)
  • Departure (Completed)
  • SHELTER (Completed)
  • Kampus [END]
  • Days After We Met
  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • Tingkat Tiga
  • Satu Atap, Satu Kampus
  • DEAR SOPHIA
  • Jungkir Balik

Tidak berapa lama kemudian, Aku mendengar suaranya lagi. Kali ini lebih dekat di belakangku. "Hey, Kamu yang memakai napkin(serbet) di kepala!" Aku menoleh. "Maaf, kamu memanggilku?" "Terus siapa lagi kalau bukan kamu?" Suaranya kasar. Wajahnya apalagi, tidak ada kelembutan sedikitpun. "Maksudku ... tadi kalau ngga salah dengar, Kamu memanggil Si Filipin, kan? Well, itu bukan namaku. Kalau yang kamu maksud itu sebuah negara asal, Aku bukan berasal dari Filipina." "Shut up!" Dia mengayun-ayunkan tas hitamku. Oh, aku tadi terlalu sibuk dengan gawai hingga melupakan tas itu. "Your bomber bag!(tas bom mu)" katanya sambil tersenyum sinis. Aku mengulurkan tangan untuk mengambil tas itu. Bukannya menyerahkannya, dia malah memutar-mutar tas itu di atas kepala. "Bukankah barusan kamu bilang kalau tas itu berisi bom? Kurasa apa yang tanganmu lakukan itu, tidak bisa disebut ... pintar," kataku sambil menatap mata cokelatnya. Jangan tanya kenapa aku seberani itu. Aku sendiri juga tidak tahu.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo