Coffee Love

Coffee Love

  • WpView
    Reads 58,890
  • WpVote
    Votes 5,062
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 1, 2026
"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi seperti yang gue sebutkan tadi, Na." "Bukan berarti tidak ada yang lebih baik, tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk menemukannya." "Jadi gimana?" "Gue setuju, Mas. Akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan yang lebih baik, dan bahkan mungkin akan jadi penyesalan seumur hidup jika tidak mengambilnya." "Jadi?" Aku mengangguk. "Ayo pacaran, Mas."
All Rights Reserved
#23
walikota
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • Camaraderie [COMPLETED]
  • Jungkir Balik
  • Dosen, Selalu Benar [TAMAT] BELUM REVISI
  • Si Bandel Kesayanganku
  • Satu Atap, Satu Kampus
  • Backstreet [2]
  • COMEBACK MANTAN [TAMAT]
  • TITIP SALAM ( TAMAT ✅)

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines