Zona Merah=Friend Zone !

Zona Merah=Friend Zone !

  • WpView
    Reads 88
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 13, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Maaf kak, sebenernya aku belum ada keinginan buat pacaran sama nana, aku cuman pengen jadi penghibur nana, moodbooster nana intinya yang bisa ngebuat nana ketawa kak, tapi jangan kasih tau nana ya kak" Ucap seorang lelaki pada kakak nya sang gebetan "Loh? Kenapa? Karena umur? Lagian ngga jauh jauh amat kok umur lo sama adek gua, cuman beda 4 tahun" "Maaf kak, aku cuman mau jadi support systemnya nana" lelaki tersebut lalu berdiri pergi meninggalkan sang kakak. Bagaimana bisa ada lelaki seperti itu? Meskipun maksudnya baik, namun itu termasuk kelakuan yang tak bertanggung jawab. Lalu bagaimana perasaan nana saat mengetahui sang pujaan hatinya berkata seperti itu pada kakak nya. Apakah hubungan mereka masih berlanjut dengan status yang tak jelas? Atau suatu hari sang pujaan hati nana berubah pikiran dan mengajak nana pacaran? Kalau pun iya, apakah nana masih mau menerima perasaan sang pujaan hati setelah tahu apa yang di katakannya? ------------------------------------ Warning ! - typo bertebaran
All Rights Reserved
#179
gagalmoveon
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LOVE FOUND REGARDLESS
  • [Bukan] Couple Goals [SUDAH TERBIT]
  • Because I'm Stupid (End)
  • Nathan Dan Pilihannya | Na Jaemin✔️
  • Sebuah Rasa
  • Partfect

Gagal menikah karena tunangannya berselingkuh tak menghentikan Hana untuk tetap pergi "bulan madu" sendirian ke Turki. Di sana, ia bertemu Kaivan yang baru saja bercerai. Dua orang asing dengan hati yang patah itu membuat kesepakatan impulsif: menjadi pengganti satu sama lain selama perjalanan, larut dalam sesuatu yang seharusnya tak pernah terjadi, dengan janji untuk melupakan semuanya setelahnya. Namun, takdir punya cara sendiri untuk mempermainkan mereka. Dua tahun berlalu, dan tiba-tiba, mereka kembali dipertemukan-bukan di negeri asing, tetapi dalam kehidupan nyata yang tak memberi ruang untuk pura-pura. Apakah pertemuan ini kesempatan kedua untuk menemukan cinta, atau hanya pengingat bahwa beberapa kisah memang seharusnya dibiarkan selesai?

More details
WpActionLinkContent Guidelines