Sepenggal Kisah Kuno

Sepenggal Kisah Kuno

  • WpView
    Membaca 22
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Apr 8, 2021
Picture by Pinterest Ini kisah Amesha yang tinggal bersama Nini dan Aki di sebuah desa. Tentang bagaimana cerita di desa sampai sebuah kata-kata yang diucapkan oleh Aki dan Nini dengan penuh makna. Hidup itu perjalanan. Maka kita perlu yang namanya ilmu hidup. Ilmu hidup susah didapat, maka jikalau ada orang yang memberikannya gratis jangan dibuang cuma-cuma. Karena tak tentu akan ada orang yang memberikannya untuk yang kedua kali. Cerita ini hanya kisah-kisah desa, bahkan Amesha sendiri belum pernah ke kota. Maka dengan itu Amesha namakan cerita ini Sepenggal Kisah Kuno yang didalamnya mungkin hanya pemikiran kolot yang pernah dialami Amesha sendiri. Selebihnya hanya perkataan-perkataan dari para sepuh yang pernah bertemu Amesha atau mungkin berinterkasi dengannya. Amesha sendiri ingin cerita ini bermanfaat untuk kawan-kawan semua. Copyright ©deritkata Dipublikasikan 080421
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#7
ceritadesa
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • DESA PUNYA CERITA
  • 41 HARI
  • See You After Midnight [END]
  • Nostagia dalam perjalanan
  • Lembar Terakhir Surat Untuk Dika
  • Possesive Playboy
  • Cinta Tapi Cinta?
  • Short Story
  • 36 days with you {saida} [End]

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan