Cerita Kita

Cerita Kita

  • WpView
    Reads 57
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 6, 2021
"Dia berjalan dalam bayangan, tanpa menyadari bahwa dia seberharga cahaya" - Janu. *** Aca yang selama hidupnya 15 tahun tidak pernah memiliki teman dekat atau sahabat dikarenakan selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, mulai mengenal arti dari persahabatan, cinta, kekeluargaan, dan perpisahan semenjak pindah ke sebuah kota. Di kota itu, Aca mengenal Hafizh dan Topan yang selalu bersama sejak lama tetapi memiliki kepribadian yang berbeda. Selain itu, ada Nathan, tetangganya yang selalu datang ke rumah karena menyukai kue buatannya, Fathur yang merupakan teman Nathan tidak lupa mengekorinya saat Nathan pergi ke rumah Aca. Terakhir, ada Raihan, laki-laki yang dia temui di salah satu toko buku di kota itu. Bagaimana perjalanan Aca selama di kota itu bersama dengan Hafizh, Topan, Nathan, Fathur, dan Raihan? Bisakah mereka melihat topeng yang selalu Aca gunakan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • KISAH DI BALIK PINTU || NCT DREAM
  • Friend 〰 njm ✔
  • Senja Jadi Sendu (END)
  • TERBIT | Just Friends
  • Sergio | Haechan
  • ALWAYS US (END)
  • Diam Diam Nikah
  • Rainathan

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines