impian yang menjadi kenyataan

impian yang menjadi kenyataan

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 9, 2021
ini cerita tentang seorang anak yg hobi rebahan tapi bercita cita ingin bertemu bias dan mendapat beasiswa kuliah di Korea Selatan,namun kesukaannya ini tidak didukung oleh kedua orang tuanya dan kakak laki-laki nya,dia msih sekolah tingkat Mts dia anak kedua dari dua bersaudara,dia anak yg ceria, pinter lumayanlah dia ranking 2 diklsnya,cuek, dingin ke orang yg blm diknl tapi klo dh kenal gila nya keliatan ,judes,kata kata nya nyakitin. tapi siapa yang pernah menyangka jika impiannya menjadi kenyataan? ya silahkan dibaca happy reading!! ini cerita pertama aku jdi maaf klok msih bnyk typo:), msih agak gj,hehe^^ akan aku perbaiki lagi ini cerita sendiri keluar dri pikiran sendiri gk nyontoh punya orang!! maaf kalau ada kesamaan tokoh,nama,atau tempat! sekian terima kasih happy reading!!^^
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't Talk About Money
  • Stupid Love || Yoon Jongwoo pov
  • Expectation Of Love (Vrene - Book II)
  • [Jjk] Lucky Fans
  • THREE BOYS END THREE GIRL'S S2 _END
  • My Illegal Love
  • First Time
  • MY TEACHER IS MY HUSBAND |1|
  • between my  real world and in the dream world
  • persahabatan berubah menjadi pertengkaran? ( END)

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines