ARUNIKA

ARUNIKA

  • WpView
    Reads 156
  • WpVote
    Votes 67
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 27, 2021
"Dit, kalau lo ga suka sama dia bilang dari awal. Jangan bikin dia kehilangan nyawanya!" ••• Dia yang dulu ada, tampak berbeda. Semuanya menjadi semu saat senja datang. Terdiam beberapa saat menatap potret kehidupan lamanya yang kini tersimpan di sebuah album usang. Kini dia mulai berharap, walau nyatanya dunia tak menyetujuinya dan merelakan apa yang seharusnya menjadi milik dirinya saat ini. Sampai akhirnya dia sadar bahwa orang yang selama ini dia kejar tak sama dengan orang yang hadir disetiap kesedihannya dan juga seperti bayangan arunikanya. Orang itu hanya menjadi obat sementara baginya dan tidak selamanya ia harus bergantung pada obat itu. •Tetap mengawalinya dengan berdoa, apapun yang terjadi nanti harus diterima dengan lapang dada.• -Rara.
All Rights Reserved
#299
arunika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • US AND LAKE COMO ITALY [ON GOING]
  • Cahaya [COMPLETED]
  • Harapan Bunga Terakhir
  • SELESAI (Say Goodbye)
  • When You Love Yourself (Tamat)
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • Semesta Angkasa | Teenlit ✔
  • LALA
  • ARGA : THE SAVAGE BOY {END}
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines