Hijrah Hati

Hijrah Hati

  • WpView
    Membaca 33
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Apr 10, 2021
WpInfo
Fiksi
Tema Sosial
Bagaimana kehidupan Arvie anggara setelah ditinggal pergi oleh seorang yang sangat ia cintai? Seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya kini telah pergi meninggalkannya, tak ada lagi alasan baginya untuk kembali pulang. "Ini tak adil! Mengapa semua orang yang kucintai harus meninggalkanku? Tuhan tak adil! Ia selalu saja merenggut kebahagiaan ku! Sekarang aku sudah tak punya siapa-siapa lagi, tak pantaskah aku bahagia tuhan? Jawab pertanyaanku! Kau selalu saja mengambil kebahagiaan ku" teriaknya di depan pusara ibunya "Ibu....Tak ada lagi alasan untuk ku kembali pulang, aku tak tahu kemana harus melangkah kini ku sudah kehilangan arah" lanjutnya lagi sambil memeluk nisan ibunya Kini yang terdengar hanyalah tangisan yang menyatu dengan hujan... "Arghhh sial! Tuhan selalu saja tak adil kepadaku! Aku tak lagi percaya kepadamu!" Teriaknya frustasi lalu ia pergi meninggalkan tempat itu. "Jika diri ini tak tahu lagi arah, lalu kemana aku harus pergi melangkah?"~Arvie Anggara~
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#580
religi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Don't Talk About Money
  • Kusebut Namamu Dalam Doaku
  • HARUSKAH KU PERGI
  • Halaqah Rasa
  • INI CINTA BUKAN BENCI
  • Kekasih Hati
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Karena Kamu Rumahnya
  • RION IS MY MANTAN!
  • Tahajud Cinta Kayra (REVISI)

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan