FIX YOU

FIX YOU

  • WpView
    Reads 560
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 10, 2026
Kehidupan dunia memang kejam. Jika kita tidak bisa menyesuaikan diri maka semua akan hancur. Seorang wanita, dia bagaikan berlian. Harga berlian yang indah itu mahal sangat mahal, jika hancur, terpecah belah, harga jualnya tidak lagi tinggi bahkan menjadi tidak berharga. Wanita bagaikan gelas kaca. Jika gelas kaca itu pecah, hancur berkeping-keping, yidak bisa di satukan kembali menjadi sebuah gelas kaca yang utuh, melainkan dia akan di buang karena sudah tidak bisa digunakan, sekalipun dibenarkan, masih tetap terlihat serpihannya dan tidak akan sempurna. Wanita. Kehormatannya diibaratkan berlian dan gelas kaca. Patut dijaga sedemikian rupa agar kelak tidak di hina oleh sekumpulan orang di dunia yamg sangat kejam.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hot girl
  • Kesayangan Mas Juragan!
  • The Imperfect Señorita
  • Almost Married (END)
  • R É G A L I S [REVISI]
  • SECOND TASTE
  • Kembang Desa
  • Where They All Look At
  • NINGRUM

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines