"Kalau Bunda lahirkan aku pas hujan, apa itu artinya aku harus terus menangis?"
Bagi Raina, melukis adalah cara ia bicara saat dunia terlalu bising untuk didengar. Warna adalah pelarian, dan kanvas adalah tempatnya merasa aman. Namun bagi Revan, kakaknya, dunia adalah tentang kecepatan di lintasan go-kart, sebuah kebebasan yang perlahan dirampas oleh rasa sakit misterius yang menusuk kepalanya setiap hari.
Di tengah mereka, ada Ayah. Seorang apoteker yang terjebak dalam trauma masa lalu, berusaha membentengi anak-anaknya dengan cara yang paling menyesakkan: mengekang. Ayah percaya ia bisa menyembuhkan segalanya dengan racikan obat dan aturan ketatnya, hingga sebuah kecelakaan tragis di lintasan balap membuka rahasia gelap yang selama ini disembunyikan Revan sendirian.
Vonis itu jatuh seiring dengan rintik hujan yang tak kunjung usai Kanker Otak.
Kini, Revan bukan hanya kehilangan kemudi, tapi juga dunianya. Ia menjadi dahan yang patah, tempat Raina biasanya bersandar. Di saat yang sama, Raina harus berjuang dengan rasa sakit di pergelangan tangannya sendiri akibat kecelakaan yang dialaminya, membuat kuasnya tak lagi bisa menari dengan luwes.
Mereka harus memilih, Bertahan dalam ego dan ketakutan Ayah yang dingin, atau mempertaruhkan segalanya di meja operasi demi satu kemungkinan kecil untuk kembali utuh. Di bawah langit yang terus mendung, Raina belajar bahwa melukis bukan lagi tentang pemandangan indah, tapi tentang mewarnai harapan di atas kanvas yang nyaris robek.
Hujan di Balik Kanvas - Sebuah kisah tentang merelakan, berdamai dengan takdir, dan menemukan hangatnya keluarga di tengah badai yang paling dingin. Karena terkadang, dahan harus patah agar akar bisa tumbuh lebih kuat.
All Rights Reserved