"Aku tau hidupmu pasti berat, sampai kamu memutuskan untuk meninggalkan dunia secepat ini, tapi aku yakin kamu bisa lebih kuat dari saat ini," ucap laki-laki jakung itu sambil menatapnya dalam, "tapi, bukankah menjalani hidup lebih baik daripada tidak melakukannya? Kamu harus hidup, karena kamu sangat berharga seperti orang lain. Ada seseorang berkata padaku 'Tolong bertahan untuk hidup sehari dengan satu alasan kecil'. Oh iya, kalau kamu bunuh diri, kamu tidak kan bisa bertemu lagi denganku. Kamu menyia-nyiakan laki-laki tampan sepertiku ini, hahaha." Masih terngiang semua perkataannya di jembatan merah dipagi itu.
Perkataannya pagi itu berhasil menyelamatkan nyawa seseorang. Teruntuk Arkana Dinari, laki-laki yang selalu membawa tawa bagi setiap orang, membawa kebahagiaan bagi setiap orang di sisinya. Dinari artinya bintang yang bersinar. Benar kata orang, nama adalah doa. Dinari, menjadi bintang bagi orang-orang yang ada disekitarnya. Arkana Dinari, kita bertemu karena sebuah ketidaksengajaan. Tapi ada kenangan yang tidak bisa terlupakan. Arkana Dinari, nama yang akan terukir abadi.
Nala menjalani pernikahan yang tenang namun sunyi bersama Arka. Di balik butik yang ia bangun, ada luka yang belum sembuh dan kata-kata yang tak pernah sempat diucap. Ketika masa lalu datang mengetuk pintu, apakah cinta yang diam bisa bertahan?
Arka bukan laki-laki yang pandai merangkai rasa. Ia mencintai dengan cara yang diam-terlalu diam, hingga Nala sering merasa sendiri dalam kebersamaan. Ia takut menyakiti, tapi tak tahu cara membahagiakan.
Lalu Haykal kembali, membawa kenangan yang dulu nyaris menjadi rumah bagi hati Nala. Bersamanya, Nala kembali dihadapkan pada tanya yang tak pernah selesai:
Cinta macam apa yang pantas diperjuangkan, yang tenang namun hampa, atau yang pernah patah namun tak pernah benar-benar pergi?
- NALA CHAPTER TWO: The Storm We Called Love (Even shattered hearts can hold the softest love)