
"Aw, geli dek ... geli, ampun," mohon Mas Irkham. "Bodoamat." Aku terus menggelitiki Mas Irkham tanpa ampun. "Aya ... ampun ... ampun ...," ucap Mas Irkham sambil guling-guling di kasur karena geli. "Hahaha, syukurin, emang enak, mangkannya jangan nakal." Aku pun tertawa puas setelah menggelitik Mas Irkham. "Mbak Aya mainnya kasar yah," Mas Irkham menatapku sambil cengar cengir. "Gantian yah." Tiba-tiba Mas Irkham memelukku,lalu membalas menggelitik perut.Alle rechten voorbehouden