Silent Death

Silent Death

  • WpView
    LECTURAS 42
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadConcluida jue, abr 10, 2025
Apa yang kalian harap dari sebuah kehidupan?, Apakah sebuah kekayaan, kesehatan, Serta umur pajang atau cemas menunggu datang nya kematian?. Amalis adalah satu dari diantara beberapa orag yang lebih cemas menunggu datang nya kematian ketimbang menjalani kehidupan dengan tenang. Ah jangan salahkan dia kenapa berfikir demikian, Salahkan saja kehidupan yang menuntun dia untuk berpola fikir seperti itu. "Cita-cita atau impian yah.... aeum tentu saja Kematian yang Damai" Banyak typo nya Langsug baca aja yah😁😁
Todos los derechos reservados
#304
badgrils
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • To the Happy Ending✓
  • Boys With Luv
  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER
  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)
  • AETERNA  | Selesai✓
  • l'm Fine :) [ON GOING]
  • Iyrin: Di Balik Sayap dan Bisikan
  • TOXIC RELATIONSHIT [END]
  • Faith in You : The Seeker
  • Pangeran Kegelapan

Ketika kematian menjemputmu setiap saat, keinginan terbesar dalam hidup Zata adalah setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin mati dengan tenang! Kenapa ia selalu berakhir tragis dan menyedihkan seperti ini?! Dari mati sebagai gelandangan tunawisma di gang sempit, kelaparan sampai malaria, prajurit yang gugur di medan perang, dituduh penyihir sampai hukuman gantung, hampir semua jenis kematian sudah dirasakan oleh Zata. Dia sendiri bahkan terheran-heran bagaimana ia bisa terus menerus mengulang kehidupan dan kematian bagai lingkaran looping yang terus berputar, menjebaknya. Ketika akhirnya ia merasa bosan oleh kehidupan yang terus berulang ini, Zata menumbuhkan satu kebiasaan buruk yang bahkan ia sendiri tidak sadari yaitu, "Ah sudahlah, pada akhirnya aku akan mati lagi!" Begitulah yang sekiranya ia pikirkan sehingga sekarang baginya nyawa bukanlah sesuatu yang berharga lagi. Dia kerap mati konyol dalam insiden-insiden yang sebenarnya bisa ia cegah, hindari, atau malah atasi. Namun pada satu malam, di kehidupan yang entah ke berapa sekarang, di mana di kehidupan ini ia merupakan seorang pedagang kain, bersama para pedagang lainnya Zata berbaur dengan kalangan bangsawan yang tertarik dengan barang mereka. Di satu malam yang cukup mencekam, di pesta yang seharusnya meriah penuh suka tawa, sebuah pemberontakan, kudeta terjadi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido