Hold On
  • WpView
    Leituras 171
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, nov 15, 2014
"We live alone. We die alone. Everything else is just an illusion." Aku pikir quotes di atas salah. Ya, pasti tuhan tak akan membiarkan kita sendirian, bukan? Aku pikir mungkin suatu saat penantianku tidak akan berujung sia-sia. Cinta memang butuh waktu, kan? Bersabar, bersabar, dan bersabar. Itulah kuncinya. Aku hanya butuh menunggu hingga saat yang tepat. Ya, aku pikir begitu. Suatu ketika, aku ingin menceritakan kisah panjang yang sudah kujalani bersamanya. It's all about happiness, sacrifice, pains, and disappointment in a story. Dan ini bukan kisah cinta yang aku dan kau pikirkan.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Cahaya [COMPLETED]
  • Aku Jatuh dan Cinta
  • Hopeless
  • Alur Kehidupan [REVISI]
  • Imagination
  • L.O.S.T Don't Know How to Love
  • Akar dan Ranting
  • Become an Extra or Main Character [END]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo