Diriku dapat di ibaratkan seperti kupu-kupu, banyak yang menyukai ku namun banyak juga yang menjaga jarak dariku.
Banyak orang di sekitar ku. Namun tak ada satupun yang paham akan keadaan ku.
Hingga sosok pemuda asing yang mencoba mencapai diriku, perlahan dia pun masuk kedalam hidupku, membuatku merasa terbiasa bahwa di dunia ini aku tak sendiri lagi.
Namun pada akhirnya, aku kehilangan rumah untuk yang kedua kalinya
aku kira saat bertemu denganmu adalah anugerah yang diberikan oleh tuhan kepada ku, seseorang yang mengerti aku, seseorang yang memberikan perhatian yang belum pernah aku dapatkan dari sosok pahlawan ku, sosok yang seharusnya menjadi pahlawan seperti yang dirasakan gadis lainnya. Namun untuknya sosok ayah tak lebih dari seorang penjahat yang menelantarkan anaknya bahkan bisa di bilang membuang, dan pada akhirnya aku bertemu dengan nya, jatuh cinta dengan sifat hangat nya, namun ternyata semua itu membuat luka ini terbuka semakin lebar
"kamu mau apa"
"kamu percayakan sama aku"
"iya tapi ga kaya gini, aku takut kamu mau apa"
"ga apa apa kok, aku cuma mau..."
dan saat itu aku sudah kehilangan diriku hingga saat ini, I lost everything my family, myself, and my heart.
Fiksi ini bercerita tentang kehidupan Alam yang penuh derita. Sejak kecil ia sudah menjadi gelandangan dengan kecacatan yang menambah kesulitan hidupnya. Setelah beberapa kali Alam mencoba untuk bunuh diri, ia selalu selamat. Namun, ketika ada satu hal yang membuatnya merasa lebih baik untuk melanjutkan kehidupan, ia justru mengalami kecelakaan yang tak diinginkannya. Seiring berjalannya waktu, Alam berhasil memperbaiki hidupnya walau pada akhirnya ia harus kehilangan wanita yang sangat dicintai olehnya.
Bukan hanya Alam. Si cantik Manda juga merasakan derita yang serupa. Luka membuatnya menganggap bahwa mengakhiri hidup adalah jalan keluar satu-satunya. Menjadi seorang pelacur tentu bukan cita-citanya. Sayangnya, ia terjebak di keadaan pedih tersebut dengan perasaan yang kian tersiksa. Manda terus berusaha untuk keluar dari dunia bak penjara itu, apapun yang terjadi, bagaimanapun luka yang tercipta ia yakin bahwa peluang untuk bahagia masih ada untuknya.
Alam: Aku merasa telah menjadi sampah dunia yang tak berguna. Juga seperti abu yang sudah terbakar berkali-kali. Pernah aku mencoba untuk mengakhiri hidup. Sekali, dua kali, tiga kali, tapi aku selalu selamat. Lalu aku kembali menabrakkan diri dan menjatuhkan diriku yang cacat dari ketinggian serta menelan racun. Aku, tetap selamat. Cahaya putih dapat kulihat lagi saat aku terbangun. Jika orang lain berbahagia karena masih berkesempatan untuk hidup di dunia, aku justru merasa tersiksa setiap kali gagal membuang nyawaku.
Manda: Lima tahun setelah pernikahan Ayah dan ibuku, lahirlah aku. Bayi perempuan yang katanya tidak pernah diharapkan oleh ayahku. Aku tidak mampu mengingat banyak hal tentang kehidupan masa kecilku. Tapi peristiwa mengerikan yang pertama adalah di saat aku berusia 14 tahun. Aku dipaksa menjadi seorang pelacur.