Gadis Sejuta Dollar

Gadis Sejuta Dollar

  • WpView
    Reads 214
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 23, 2021
"Ayo nikah sama aku. Aku harus punya anak." Jovan meraih tanganku yang gemetar. Aku begitu terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar. "A-apa? Ta-tapi." Kata-kataku tergagap. Dia adalah lelaki paling kuingnkan di dalam hidupku. Semua ini begitu mengejutkan. Ini pasti mimpi. Aku menelan ludah membasahi tenggorokanku yang tiba-tiba terasa kering. "Jangan khawatir, aku hanya ingin memiliki anak. No sex." Jovan menatapku dengan mata penuh permohonan. Kata-kata yang di ucapakan Jovan semakin membuatku lemas. Aku menginginkannya siang dan malam. Tapi... apa dia bilang? No sex? Shit! "Tapi, Jo. Gimana bisa punya anak tanpa sex? Kamu pikir aku sapi? Disuntik doang bisa punya anak?" Aku menatap mata Jovan penuh rasa tidak percaya. "Kampret ni orang" aku menggerutu di dalam hati. *** Jovan Jaya Sakti seorang pewaris tahta kerajaan bisnis Jaya Sakti Group suatu hari dipaksa sang ayah menikah. Jika Jovan menolak, seluruh fasilitas yang diberikan kepadanya ditarik sang Ayah. Pilihan Jovan jatuh pada Albin, seorang gadis yang ditemuinya di suatu tempat secara tidak sengaja. Jovan mengajak Albin menikah dengan syarat tidak biasa meski dengan imbalan luar biasa. Bagaimana cerita mereka? Apakah Albin bersedia menerima Jovan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • Unplanned marriage
  • ISTRI SETELAH CINTA
  • HUSBAND [END]
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Angel To Raya (END)
  • FOREVER || myg x y/n (END)
  • MAS SUAMI (END)

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines