Sepucuk Surat Selamat Tinggal

Sepucuk Surat Selamat Tinggal

  • WpView
    LECTURAS 4,693
  • WpVote
    Votos 142
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadConcluida dom, nov 16, 2014
WpInfo
Ficción
Romance
"Hai, apa kabar, Li? Maaf aku datang terlambat." "Hmm..., baik." "Kamu gak berubah ya..." "Memang nggak ada yang berubah," jawab Ali singkat. Prilly memperhatikan sekilas raut wajah lawan bicaranya sambil membetulkan posisi duduk. Rok selutut bermotif polkadot hitam putih yang dikenakannya tertekuk rapi di antara kursi kayu bercat cokelat mengkilap. Prilly menyapu pemandangan sekitar sambil sesekali menggeser ekor matanya ke arah Ali yang sedang sibuk dengan handphone-nya. "Kamu udah mesen makanan atau minuman?" tanya Prilly dengan nada hati-hati. "Nggak, aku di sini nggak bisa lama-lama, Prill," ucap Ali yang masih berkutat dengan iPhone 5 miliknya. "Yaudah aku pesen minum dulu, kamu mau pesan apa, Li?" "Nggak usah, aku kan udah bilang nggak bisa lama-lama di sini," jawab Ali ketus dengan pandangan tajam. Prilly tampak kesal dengan jawaban Ali barusan. Sebenarnya dia ingin bertemu Ali untuk meminta maaf atas kejadian beberapa tahun silam.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Aku & Kamu Kita
  • ketika benci menjadi Cinta
  • LOVE STORY (DITEPI PANTAI)
  • Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔)
  • Falling for You - TERBIT
  • KAMU DAN SENJA
  • Complete (END)
  • SKANDAL ADIK IPAR (SELESAI)
  • LOVE IS LOVE
  • Stay (Away)

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido