Sepucuk Surat Selamat Tinggal

Sepucuk Surat Selamat Tinggal

  • WpView
    Leituras 4,693
  • WpVote
    Votos 142
  • WpPart
    Capítulos 2
WpMetadataReadConcluída dom, nov 16, 2014
"Hai, apa kabar, Li? Maaf aku datang terlambat." "Hmm..., baik." "Kamu gak berubah ya..." "Memang nggak ada yang berubah," jawab Ali singkat. Prilly memperhatikan sekilas raut wajah lawan bicaranya sambil membetulkan posisi duduk. Rok selutut bermotif polkadot hitam putih yang dikenakannya tertekuk rapi di antara kursi kayu bercat cokelat mengkilap. Prilly menyapu pemandangan sekitar sambil sesekali menggeser ekor matanya ke arah Ali yang sedang sibuk dengan handphone-nya. "Kamu udah mesen makanan atau minuman?" tanya Prilly dengan nada hati-hati. "Nggak, aku di sini nggak bisa lama-lama, Prill," ucap Ali yang masih berkutat dengan iPhone 5 miliknya. "Yaudah aku pesen minum dulu, kamu mau pesan apa, Li?" "Nggak usah, aku kan udah bilang nggak bisa lama-lama di sini," jawab Ali ketus dengan pandangan tajam. Prilly tampak kesal dengan jawaban Ali barusan. Sebenarnya dia ingin bertemu Ali untuk meminta maaf atas kejadian beberapa tahun silam.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • SKANDAL ADIK IPAR (SELESAI)
  • ketika benci menjadi Cinta
  • Aku & Kamu Kita
  • LOVE STORY (DITEPI PANTAI)
  • satu hati satu nama
  • Dia Bahagiaku
  • BAM (Betapa Aku Menyesal) {END}
  • "ACCIDENT IN HIGH SCHOOL"
  • Stay (Away)
  • Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔)

"Rafael" kata itu meluncur dengan sendirinya. "Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Rafa. Ia memperhatikan tubuh Arin, ia memastikan tidak ada terluka sedikitpun ditubuhnya. Rafa mengenal wanita berparas cantik itu. Pertama kali ia lihat bahwa itu adalah Arin, calon adik ipar. Dulu Rafa, mengenal Arin saat Arin masih kecil, kira-kira ia masih duduk di sekolah dasar, dan sekarang tumbuh sebagai wanita dewasa. Oh Tuhan, kenapa Arin tumbuh begitu cantik, kulitnya pucat seperti porselen, tidak pernah disentuh. Matanya begitu bening dan hidungnya mancung. "Saya tidak apa-apa, kesayangan, kenapa bisa hancur begini" Arin melangkah mendekati ponsel miliknya, ia memunguti satu persatu kepingan-kepingan ponsel miliknya. Kesayangan? Ternyata Arin menyebut ponsel itu dengan kata kesayangan. Rafa ingin tertawa, Rafa lalu mendekati Arin, dan ikut berjongkok memunguti kepingan-kepingan ponsel Arin yang hancur berderai. Diliriknya lagi Arin dihadapannya. "Maaf, saya akan mengganti ponsel baru untuk kamu" ucap Rafa mencoba memberi solusi. Sesungguhnya kejadian tadi bukan salah ia sepenuhnya. Arin lah yang tidak melihat arah tujuannya, Arin lebih asyik dengan layar ponsel itu. Sehingga menyebabkan adegan tebarkan itu. "Tapi, disini banyak foto-foto saya". "Yasudah nanti kita ke konter, saa yakin pihak konter tahu cara memindahkan foto-foto kamu itu" Rafa lalu berdiri, dan kembali menatap Arin. "Kamu kenapa bisa ada disini, Arin?" Tanya Rafa. "Liburan" ucap Arin ia malah menyengir. "Sendiri?". "Iya dong, sama siapa lagi". "Liburan sendiri itu tidak baik, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Ini Bangkok loh" ucap Rafa, lalu duduk dikursi tunggu, diikuti juga oleh Arin. "Tapi, saya sudah biasa kok. Kamu kenapa ada disini?". "Saya ada urusan kerja" ucap Rafa. "Jadi gimana, handphone saya?".

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo